TEKNIK AUDIO VIDEO

LOGO TAV

LOGO TAV – SMK MA’ARIF 1 KROYA

Advertisements
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Pelepasan Siswa Teknik Audio Video SMK Maarif 1 Kroya

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????Pelepasan Siswa Teknik Audio Video SMK Maarif 1 Kroya Tahun Pelajaran 2013/2014

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Teknik Audio Video Terakreditasi A

Setelah melalui penilaian yang layak terhadap seluruh aspek penunjang pendidikan yang berkualitas, maka SMK Ma’arif 1 Kroya, memperoleh akreditasi dengan predikat A (Amat Baik) Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/ Madrasah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Program Teknik Elektronika Kompetensi Keahliah Teknik Audio Video, Alhamdulillah memperoleh Akreditasi “A”.

tav akre

Categories: Uncategorized | Leave a comment

KALENDER TAHUN 2014

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Akreditasi Teknik Audio Video Tahun 2013

Jelang Akreditasi 2013, Tim Teknik Audio Video SMK SMK Ma’arif 1 Kroya mulai melakukan serangkaian kegiatan persiapan. Pencanangan telah dilakukan rapat evaluasi penilaian untuk menentukan skor awal sebelum dimulainya kegiatan dokumentasi akreditasi.

Tim Produktif Teknik Audio Video

  1. Budhi Ambar Sukoco, S.Kom
  2. Bambang Harimanto, ST, S.Kom
  3. Ahmad Mukhlisin, S.Kom
  4. Fathur Rohman, CST
  5. Ahmad Fathoni, A.Ma. Pust

Selamat Bekerja.

selamatdatang tav

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Ucapan Selamat

heriUcapan Selamat dan Sukses atas keberhasilan HARI ANGGORO , siswa Teknik Audio Video Lulusan 2013 masuk pada Jurusan Fakultas Teknik – Mekatronika menembus Seleksi Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Buat adik-adik kelas supaya lebih giat belajar lagi.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Materi UN Teknik Audio Video

MATERI UJIAN NASIONAL TEKNIK AUDIO VIDEO

(Bambang Harimanto, ST, S.Kom – dari berbagai sumber)

Rangkaian Dasar Dioda

1. Dioda Semikonduktor
Pada bahan setengah penghantar ( semikonduktor ) misalkan material jenis-P dipertemukan dengan material jenis-N maka akan diperoleh alat dengan dua elektroda yang disebut juga Dioda.
Material jenis-P kita sebut anoda dan material jenis-P kita sebut katoda.
Karena dioda dibuat dengan cara mempertemukan material jenis-P dengan material jenis-N maka dioda ini disebut dioda pertemuan ( junction dioda ).
Dapat juga disebut dioda lapis karena terdiri dari lapisan material jenis-P dengan material jenis-N.

2. Tegangan Dan Arus Pada Dioda.

1

Lihat gambar “jalannya tegangan dan Arus pada dioda” .
Apabila suatu dioda dikoneksikan dengan sumber-arus dimana kutub positif sumber-arus berkoneksi dengan material P ( anoda ) yaitu terminal A dan Kutub negatif sumber-arus berkoneksi dengan material N ( katoda ) yaitu terminal B maka arus dapat mengalir kuat lewat dioda.
Namun bila suatu dioda dikoneksikan dengan sumber-arus dimana kutub positif sumber-arus berkoneksi dengan material N ( katoda ) dan Kutub negatif sumber-arus berkoneksi dengan material P ( anoda ) maka arus tidak dapat mengalir lewat dioda.
Dengan kata lain arus listrik hanya akan mengalir dari arah anoda ke katoda dan tidak akan mengalir dari arah katoda ke anoda.

II. KARATERISTIK DIODA
1. Karakteristik Maju Pada Dioda.
Apabila pada kutub2 elektroda suatu dioda dikoneksikan dengan sumber-arus dimana kutub positif sumber-arus berkoneksi dengan material P ( anoda ) yaitu terminal A dan Kutub negatif sumber-arus berkoneksi dengan material N ( katoda ) yaitu terminal B maka arus dapat mengalir kuat lewat dioda,ini berarti dioda diberi tegangan-panjar-maju ( forward-bias) atau tegangan-muka maju disebut jugabias-positif.

2

A. Pembagian Tegangan pada tegangan–muka maju.
Pada percobaan diatas ( gambar melihat tingkah dioda dipanjar-maju ) bila dioda diberi tegangan–panjar maju melalui resistor maka dioda akan mengalirkan arus,besarnya arus yang mengalir pada dioda bergantung pada tegangan-jepit.
Tegangan-jepit itu terbagi antara Resistor dan dioda Dimana :
• Pada dioda tegangan jepit itu hanya kecil saja.
• Pada resistor tegangan jepit itu besar.

Pada posisi tegangan jepit maksimum pembagian tegangan pada Resistor dan Dioda ialah R= 8,4 Volt dan D= 0,6 volt Dikarenakan sebagian besar tegangan jepit praktis seluruhnya pada resistor dan pada dioda hanya kecil saja,dioda bertingkah seperti Hubungan-singkat.

B. Bentuk grafik karakteristik maju.

1

Hubungan kuat arus yang mengalir pada dioda dengan tegangan-panjar-maju dioda disebut karakteristik maju dioda.
Pada karakteristik maju dioda,tegangan pada dioda dianggap tegangan positif dan arus yang mengalir juga dianggap Positif maka grafik karakteristik maju dioda pada Kuadran I pada sumbu koordinat kartesius. Dimana untuk tegangan pada arah horizontal yaitu sumbu X(= X1).
Dimana untuk kuat-Arus pada arah Vertikal yaitu sumbu Y(= Y1).
Besarnya tegangan jepit dan kuat arus maksimum yang dikenakan pada suatu dioda berdasarkan ketentuan pabrik pembuatnya,dimana hal itu di lukiskan pada grafik karakteristik maju dioda itu.

Dibawah ini gambar grafik karakteristik maju dioda IN4001.

4

Terlihat bila tegangan–panjar maju perlahan2 dinaikan dari 1VDC hingga 9 VDC maka tegangan itu sebagian besar berada pada resistor,dimana pada dioda tegangan itu perlahan2 0,1volt hingga batas maksimal tertentu.
Tegangan-panjar yang menyebabkan arus dapat mengalir pada dioda disebut tegangan-maju ( forward Voltage ).
Dengan tegangan-maju kurang dari 0,6 maka arus mengalir naik dengan lambat sekali.
Dengan tegangan-maju lebih dari 0,6 maka arus mengalir naik dengan cepat sekali.
Batas antara arus yang mengalir lambat dengan arus mengalir cepat disebut batas ambang.
Satuan batas ambang dari dioda ialah tegangan dari tegangan-muka–maju dioda itu.
Tegangan-ambang (threshold voltage) ialah Tegangan yang menyebabkan arus mengalir dengan lambat sekali menjadi cepat sekali.
Tegangan-ambang pada dioda bahan silikon ialah 0,6 – 0,7 volt ( biasanya dipakai 0,6 volt).
Tegangan-ambang pada dioda bahan germanium ialah 0,2 – 0,3 volt( biasanya dipakai 0,2 volt).

2. Karakteristik Terbalik Pada Dioda.
Pada percobaan diatas bila dioda diberi tegangan–panjar maju melalui resistor maka dioda akan mengalirkan arus,besarnya arus yang mengalir pada dioda bergantung pada tegangan-jepit.
Tegangan-jepit itu terbagi antara Resistor dan dioda. Namun apabila suatu dioda dikoneksikan dengan sumber-arus dimana kutub positif sumber-arus berkoneksi dengan material N ( katoda ) dan Kutub negatif sumber-arus berkoneksi dengan material P ( anoda ) maka arus tidak dapat mengalir lewat dioda berarti dioda diberi tegangan-panjar-terbalik ( reverse-bias ) atau tegangan-muka terbalik dan disebut jugabias-negatif.

Catu daya

Catu daya atau power supply merupakan suatu rangkaian elektronik yang mengubah arus listrik bolak-balik menjadi arus listrik searah. Catu daya menjadi bagian yang penting dalam elektonika yang berfungsi sebagai sumber tenaga listrik misalnya pada baterai atau accu.Catu daya (Power Supply) adalah sebuah perangkat yang memasok listrik energi untuk satu atau lebih beban listrik.Istilah ini paling sering diterapkan ke perangkat yang mengubah satu bentuk energi listrik yang lain, meskipun juga dapat merujuk ke perangkat yang mengkonversi bentuk energi lain (misalnya, mekanik, kimia, solar) menjadi energi listrik. Secara umum prinsip rangkaian catu daya terdiri atas komponen utama yaitu ; transformator, dioda dan kondensator. Dalam pembuatan rangkaian catu daya, selain menggunakan komponen utama juga diperlukan komponen pendukung agar rangkaian tersebut dapat berfungsi dengan baik. Komponen Pendukung tersebut antara lain : sakelar, sekering ( fuze ), lampu indicator, voltmeter dan amperemeter, jack dan plug, Printed Circuit Board ( PCB ), kabel dan steker, serta Chasis. Baik komponen utama maupun komponen pendukung sama sama berperan penting dalam rangkaian catu daya.
Catudaya atau power supply merupakan suatu rangkaian elektronic yang mengubah arus listrik bolak-balik menjadi arus listrik searah. Hampir semua peralatan elektronik membutuhkan catudaya agar dapat berfungsi.

Komponen Utama dan Pendukung Catu Daya
1. Trafo (Penurun Tegangan)
Trafo atau transformator merupakan komponen utama dalam membuat rangkaian catu daya yang berfungsi untuk mengubah tegangan listrik. Trafo dapat menaikkan dan menurunkan tegangan. Berdasarkan tegangan yang dikeluarkan dari belitan scundair dibagi menjadi 2 yaitu:
a). Step up (penaik tegangan) apabila tegangan belitan scundair yang kita butuhkan lebih tinggi dari tegangan primair ( jala listrik).
b). Step down (penurun tegangan) apabila tegangan belitan scundair yang kita butuhkan lebih rendah dari tegangan primair (jala listrik).
Berdasarkan pemasangan gulungannya dikenal 2 (dua) macam trafo yaitu:
a). Trafo tanpa center tap (CT)
b). Trafo dengan center tap (CT)
2. Dioda Rectifier (Penyearah)
Peranan rectifier dalam rangkaian catu daya adalah untuk mengubah tegangan listrik AC yang berasal dari trafo step- down atau trafo adaptor menjadi tegangan listrik arus searah DC.
a). Penyearah Setengah Gelombang
Dalam komponen elektronika penyearah setengah gelombang disebut juga Half Wave Rectifier.
b).Penyearah Gelombang Penuh
Dalam komponen elektronika penyearah gelombang penuh disebut juga Full Wave Rectifier.
3. Filter (Penyaring)
Penyaring atau filter merupakan bagian yang terdiri dari kapasitor yang berfungsi sebagai penyaring atau meratakan tegangan listrik yang berasal dari rectifier. Selain menggunakan filter juga menggunakan resistor sebagai tahanan.
4. Stabilizer dan Regulator
Stabilizer dan regulator adalah bagian yang terdiri dari komponen dioda zener, transistor, komponen IC atau kombinasi dari ketiga komponen tersebut. Komponen ini berfungsi sebagai penstabil dan pengatur tegangan (regulator) yang berasal dari rangkaian penyaring.
Selain komponen utama dalam pembuatan rangkaian catu daya juga menggunakan berbagai komponen pendukung lainnya seperti sakelar, sekering, lampu indicator, voltmeter, multimeter, PCB ( Printed Circuit Board) dan berbagai komponen pendukung lainnya.

Rangkaian Catu Daya
Power supply standar simple
Power supply ini dikatakan simple, karena hanya menggunakan 1 buah dioda 1 ampere, dan 1 buah elco (elektrolit condensator) dan pastinya dengan komponen utama berupa travo dan dikenal dengan istilah ’penyearah gelombang penuh’, karena menggunakan 1 dioda maka daya yang dihasilkan setengah menghantar, ex: pada travo 12 volt , maka tegangan yang dihasilkan 12/2 =6 volt.

PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR
Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus searah DC (direct current) yang stabil agar dapat dengan baik. Baterai atau accu adalah sumber catu daya DC yang paling baik.Namun untuk aplikasi yang membutuhkan catu daya lebih besar, sumber dari baterai tidak cukup.Sumber catu daya yang besar adalah sumber bolak-balik AC (alternating current) dari pembangkit tenaga listrik.Untuk itu diperlukan suatu perangkat catu daya yang dapat mengubah arus AC menjadi DC.Pada tulisan kali ini disajikan prinsip rangkaian catu daya (power supply) linier mulai dari rangkaian penyearah yang paling sederhana sampai pada catu daya yang ter-regulasi.

A. Pembagian Tegangan pada tegangan–panjar terbalik.
Pada percobaan diatas ( gambar melihat tingkah dioda dipanjar-terbalik ) bila dioda diberi tegangan–panjar terbalik melalui resistor maka dioda tidak mengalirkan arus.
Tegangan-jepit itu terbagi antara Resistor dan dioda Dimana :
• Pada dioda tegangan jepit itu besar.
• Pada resistor tegangan jepit itu hanya kecil saja.

Pada posisi tegangan jepit maksimum pembagian tegangan pada Resistor dan Dioda ialah D= 68,9 Volt dan R= 0,1 volt Dikarenakan sebagian besar tegangan jepit praktis seluruhnya pada dioda dan pada resistor hanya kecil saja,dioda bertingkah seperti putus-an.

B. Bentuk grafik karakteristik terbalik

  • Hubungan kuat arus yang mengalir pada dioda dengan tegangan-panjar-terbalik dioda disebut karakteristik terbalik dioda.
  • Pada karakteristik terbalik dioda,tegangan pada dioda dianggap tegangan negatif dan arus yang mengalir juga dianggap negatif maka grafik karakteristik maju dioda pada Kuadran III pada sumbu koordinat kartesius.
  • Dimana untuk tegangan pada arah horizontal yaitu sumbu X (=X2). • Dimana untuk kuat-Arus pada arah Vertikal yaitu sumbu Y (=Y2).
  • Besarnya tegangan jepit dan kuat arus maksimum yang dikenakan pada suatu dioda berdasarkan ketentuan pabrik pembuatnya,dimana hal itu di lukiskan pada grafik karakteristik terbalik dioda itu.

Terlihat bila tegangan-panjar-terbalik perlahan2 dinaikan dari 10 VDC hingga 70 VDC maka tegangan itu sebagian besar berada pada dioda dimana pada resistor hanya kecil sekali,pada tegangan tertentu akan ada arus yang mengalir. Arus yang mengalir bila dioda di beri tegangan-panjar terbalik disebut arus–bocor atau arus–terbalik ( reverse-current ).

Dengan tegangan-terbalik kurang dari -60 maka arus-bocor mengalir dengan lambat sekali.
Dengan tegangan-terbalik lebih dari -60 maka arus mengalir dengan cepat sekali.
Batas antara arus yang mengalir lambat dengan arus mengalir cepat disebut batas ambang.
Satuan batas ambang dari dioda ialah tegangan dari tegangan-panjar–terbalik dioda itu.
Pada tegangan ambang -60volt (= silikon) dioda tertembus (breakdown).
Tegangan-tembus (breakdown voltage) ialah Tegangan-muka terbalik yang menyebabkan arus mengalir dengan lambat sekali menjadi cepat sekali.
Tegangan–tembus ditemukan oleh Zener.
Dioda zener menggunakan prinsip tegangan ini.
Dioda yang tertembus belum tentu rusak asalkan arus yang mengalir padanya tidak melebihi spesifikasi pabrik pembuatnya atau arus besar sekali.

III. PERLAWANAN PADA DIODA

5

Bila dioda di beri tegangan–panjar maju maka arus mengalir dengan dari arah anoda ke katoda.
Besarnya arus yang mengalir berdasarkan hukum ohm ialah hasil bagi antara tegangan dengan hambatan itu. Ini berarti dioda mempunyai nilai hambatan tersendiri,besarnya hambatan pada dioda tergantung pada tegangan yang ada pada dioda.
Bila dioda di beri tegangan-panjar–maju maka arus mengalir dengan kuat dari arah anoda ke katoda ini berarti dari arah anoda ke katoda hambatannya kecil.
Bila dioda di beri tegangan-panjar–terbalik maka arus mengalir dengan sangat kecil ( lemah ) dari arah katoda ke anoda ini berarti dari arah katoda ke anoda hambatannya sangat besar. Bentuk perlawanan dioda pada grafik VI ( forward atau reverse bias ) tidak linier.

F L I P – F L O P

Flip-flop adalah keluarga Multivibrator yang mempunyai dua keadaaan stabil atau disebut Bistobil Multivibrator.Rangkaian flip-flop mempunyai sifat sekuensial karena sistem kerjanya diatur dengan jam atau pulsa, yaitu sistem-sistem tersebut bekerja secara sinkron dengan deretan pulsa berperiode T yang disebut jam sistem (System Clock atau disingkat menjadi CK). Seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1:

Gambar 1.

6Gambar1: Keluaran dari pembangkit pulsa yang digunakan sebagai deretan pulsa untuk sinkronisasi suatu sistem digital sekuensial Lebor pulsa tp diandaikan kecil terhadap T

Berbeda dengan uraian materi sebelumnya yang bekerja atas dasar gerbang logika dan logika kombinasi, keluarannya pada saat tertentu hanya tergantung pada harga-harga masukan pada saat yang sama. Sistem seperti ini dinamakan tidak memiliki memori.Disamping itu bahwa sistem tersebut menghafal hubungan fungsional antara variabel keluaran dan variabel masukan.
Sedangkan fungsi rangkaian flip-flop yang utama adalah sebagai memori (menyimpan informasi) 1 bit atau suatu sel penyimpan 1 bit.Selain itu flip-flop juga dapat digunakan pada Rangkaian Shift Register, rangkaian Counter dan lain sebagainya.

Macam – macam Flip-Flop:
1.RS Flip-Flop
2.CRS Flip-Flop
3.D Flip-Flop
4.T Flip-Flop
5.J-K Flip-Flop

1. RS Flip-Flop
RS Flip-Flop yaitu rangkaian Flip-Flop yang mempunyai 2 jalan keluar Q dan Q (atasnya digaris). Simbol-simbol yang ada pada jalan keluar selalu berlawanan satu dengan yang lain. RS-FF adalah flip-flop dasar yang memiliki dua masukan yaitu R (Reset) dan S (Set). Bila S diberi logika 1 dan R diberi logika 0, maka output Q akan berada pada logika 0 dan Q not pada logika 1. Bila R diberi logika 1 dan S diberi logika 0 maka keadaan output akan berubah menjadi Q berada pada logik 1 dan Q not pada logika 0. Sifat paling penting dari Flip-Flop adalah bahwa sistem ini dapat menempati salah satu dari dua keadaan stabil yaitu stabil I diperoleh saat Q =1 dan Q not = 0, stabil ke II diperoleh saat Q=0 dan Q not = 1 yang diperlihatkan pada gambar berikut:
7
Tabel Kebenaran:
8

Yang dimaksud kondisi terlarang yaitu keadaaan yang tidak diperbolehkan kondisi output Q sama dengan Q not yaitu pada saat S=0 dan R=0. Yang dimaksud dengan kondisi memori yaitu saat S=1 dan R=1, output Q dan Qnot akan menghasilkan perbedaan yaitu jika Q=0 maka Qnot=1 atau sebaliknya jika Q=1 maka Q not =0.

ad 2. CRS Flip-Flop

9
Tabel kebenarannya:
10

Keterangan:
Qn = Sebelum CK
Qn +1 = Sesudah CK
CRS Flip-flop adalah clocked RS-FF yang dilengkapi dengan sebuah terminal pulsa clock. Pulsa clock ini berfungsi mengatur keadaan Set dan Reset. Bila pulsa clock berlogik 0, maka perubahan logik pada input R dan S tidak akan mengakibatkan perubahan pada output Q dan Q not. Akan tetapi apabila pulsa clock berlogik 1, maka perubahan pada input R dan S dapat mengakibatkan perubahan pada output Q dan Q not.

ad 3. D Flip-Flop
D flip-flop adalah RS flip-flop yang ditambah dengan suatu inventer pada reset inputnya. Sifat dari D flip-flop adalah bila input D (Data) dan pulsa clock berlogik 1, maka output Q akan berlogik 1 dan bilamana input D berlogik 0, maka D flip-flop akan berada pada keadaan reset atau output Q berlogik 0.

11

Tabel Kebenaran:
12

4. T Flip-Flop

13
Gambar 5. T flip-flop

Tabel Kebenaran:
14
Rangkaian T flip-flop atau Togle flip-flop dapat dibentuk dari modifikasi clocked RSFF, DFF maupun JKFF. TFF mempunyai sebuah terminal input T dan dua buah terminal output Q dan Qnot. TFF banyak digunakan pada rangkaian Counter, frekuensi deviden dan sebagainya.
ad 5. J-K Flip-Flop.JK flip-flop sering disebut dengan JK FF induk hamba atau Master Slave JK FF karena terdiri dari dua buah flip-flop, yaitu Master FF dan Slave FF. Master Slave JK FF ini memiliki 3 buah terminal input yaitu J, K dan Clock. Sedangkan IC yang dipakai untuk menyusun JK FF adalah tipe 7473 yang mempunyai 2 buah JK flip-flop dimana lay outnya dapat dilihat pada Vodemaccum IC (Data bookc IC). Kelebihan JK FF terhadap FF sebelumnya yaitu JK FF tidak mempunyai kondisi terlarang artinya berapapun input yang diberikan asal ada clock maka akan terjadi perubahan pada output.

15

Prinsip Kerja Compact Cassette Recorder (Tape Recorder)

Compact Cassette Recorder atau kadang disebut sebagai tape recorder adalah alat yang digunakan untuk merekam dan memainkan ulang audio yang tertanam pada pita magnetik.Meskipun saat ini Tape Recorder sudah mulai menghilang dari pasaran namun, tape recorder masih digunakan dalam hal-hal tertentu yang bersifat Resmi.

Berikut akan kami bahas tentang Blok Diagram Compact Cassette Recorder secara sederhana dengan disertai prinsip kerjanya.

A.    Blok Diagram Tape Recorder

17

Prinsip Kerja Tape Recorder

  • Sinyal dari Microfon diperkuat oleh penguat perekam. Blok oscilator bias frekuensi tinggi menghasilkan tegangan frekuensi tinggi untuk pragmentasi pita supaya proses merekam terhindar dari cacat.
  • Dari celah udara kepala rekam keluar medan magnetis dengan seirama dengan sinyal dari mikrofon.
  • Pada pita rekam terjadilah bidang-bidang rekam (zone) magnetis karena adanya induksi dari kepala rekam. Selama merekam, pita bergerak beraturan melalui muka celah udara kepala rekam.
  • Sebelum terjadi proses pada point 2 dan 3, Pita rekam telah dilewatkan dari head hapus dimana menghasilkan frekuensi tinggi yaitu sekitar lebih dari 1 KHz. Dengan melewati pita rekam ini, seluruh fluks magnetis yang tertanam pada pita rekam telah dihapus.
  • Pita yang telah mengandung rekaman magnetis apabila bergerak beraturan dengan kecepatan yang sama pada waktu merekam, maka oleh zone-zone magnetis diimbaskan tegangan imbas pada kepala reproduksi. Sinyal ini diperkuat oleh penguat Reproduksi dan oleh Loudspeaker diubah menjadi getaran mekanik. Inilah yang disebut keadaan “Main Ulang”.
  • Blok Oscilator Hapus berfungsi sebagai Oscilator pembangkit frekuensi tinggi guna menghapus pita dari rekaman yang terdahulu.

Mereparasi Compact Cassette Recorder (Tape Recorder)

  • Jika kaset player atau recorder tidak bekerja dengan baik, ada beberapa langkah pemecahan masalah yang dapat Anda coba sebelum membeli pengganti atau membayar untuk diperbaiki. Silahkan langsung beralih ke pos yang mengacu pada masalah pemutar rekaman Anda mengalami, kemudian ikuti langkah-langkah pemecahan masalah di bawah ini …

1.      POOR SOUND QUALITY (Kualitas Audio Rendah)

a)   Cobalah mengganti baterai pemain tape atau menghubungkannya ke sumber listrik AC, jika belum menggunakan satu.

b)   Gunakan kaset pembersih dalam tape. Beberapa pembersih sedikit lebih mahal termasuk fitur de-magnet yang menghilangkan daya tarik yang tidak diinginkan dari mekanisme.

c)   Kaset yang Anda gunakan mungkin telah direkam dalam recorder dengan baterai rendah atau masalah lain, coba tips dengan tape yang berbeda.

2.      TAPE TIDAK DAPAT BERPUTAR

a)   Pastikan “PAUSE” dan “MUTE” tombol tidak ditekan dalam, jika ada.Konfirmasikan bahwa setiap kabel listrik atau pengeras suara terpasang dengan benar.

b)   Pemutar kaset Banyak memiliki “AC-DC” mengaktifkan bagian depan atau samping, memastikan dalam posisi yang tepat (“AC” untuk kabel listrik, “DC” untuk baterai atau pemantik daya rokok).

c)    Keluarkan dan masukkan kembali kaset. Jika ini tidak berhasil, cobalah menekan ringan di pintu kaset sedangkan tombol “PLAY” ditekan.

d)    Jika Anda dapat melihat kaset bergerak, tetapi tidak ada suara, coba tips dengan menggunakan speaker eksternal atau headphone yang berbeda.

e)    Pertimbangkan untuk mengganti adaptor listrik / supply, jika memiliki satu dan sama sekali tidak ada tanggapan dari pemain (tidak ada lampu indikator, radio, kaset gerakan, dll)

3.      PITA MENYANGKUT PADA BAGIAN TAPE RECORDER

a)  Pertama, menghentikan pemutar kaset sesegera mungkin dan lepaskan pita dengan hati-hati, berusaha untuk tidak kerusakan bagian dalam PLAYER.

b)  Coba gunakan tape yang berbeda. Saya telah menemukan bahwa beberapa unit tape yang dinyatakan bekerja dengan baik akan ingin menyangkutkan pita sebuah kaset tertentu, jika rekaman itu sudah sangat tua.

4.      DAPAT DIMAINKAN TETAPI TIDAK DAPAT MEREKAM

a)   Periksa untuk melihat apakah plastik kaset kita tulis-perlindungan tab (s) telah dihapus, jika demikian, tidak dapat direkam kecuali anda melepas tabs kaset di atas lubang.

b)   Jika Anda menggunakan mikrofon, mencari mic.volume control pada perekam kaset. Mungkin ditolak terlalu rendah.Coba menggunakan mikrofon yang berbeda, ada kemungkinan sedikit itu bisa gagal.

5.      MUNGKIN PERLU PERBAIKAN

a)   Jika langkah-langkah pemecahan masalah tidak membuat pemutar kaset atau bekerja perekam benar, mungkin perlu untuk mengganti motor atau sabuk karet di dalamnya, dan / atau membuat perbaikan lainnya.

Blok Radio AM
1. Blok Diagram Penerima AM

18
2. Fungsi Masing-masing Blok
a. Antena : sebagai penangkap getaran/sinyal yang membawa dan berisikan informasi  yang dipancarkan oleh pemancar.

b. Penguat RF : berfungsi untuk menguatkan daya RF ( Radio Frequency/ Frekuensi tinggi) yang berisi informasi sebagai hasil modulasi pemancar asal. Setelah diperkuat, geteran RF dicatukan ke mixer.

c. Mixer (pencampur) : berfungsi mencampurkan getaran/sinyal RF dengan Frekuensi Osilator Lokal, sehingga diperoleh frekuensi intermediet (IF/Intermediate Frequency).

d. Penguat IF : digunakan untuk menguatkan Frekuensi Intermediet (IF) sebelum diteruskan ke blok detektor. IF merupakan hasil dari pencampuran getaran/sinyal antara RF dengan Osilator Lokal.

Blok Radio FM

Fungsi masing-masing  bagian blok sebagai berikut:

  1. Antena: Menangkap gelombang elektromagnetik dari stasiun pemancar radio.
  2. Penala  (Tuning): memilih sinyal dari stansiun pemancar (FRF) yang diinginkan dengan cara membuat suatu rangkaian resonator yang frekuensi resonansinya dapat diubah-ubah (digeser). Daerah kerja penala tergantung dari frekuensi yang akan diterima dan menurut aturan internasional FM = 88 – 108 MHz.
  3. Penguat RF (RF Amplifier) : menguatkan sinyal RF dari stasiun pemancar yang telah ditala oleh penala (tuning).
  4. Pencampur (Mixer) : mencampur sinyal yang diterima dari penala yang telah dikuatkan RF Amp. dengan sinyal dari oscilator. Output pencampur mempunyai keluaran yang kompleks karena terdiri dari banyak frekuensi, namun karena ditala oleh pada frekeunsi IF maka diperoleh sinyal dengan frekuensi IF = 10,7 MHz.
  5. Osilator Lokal (Local Osc.) : membangkitkan gelombang listrik kontinyu dengan frekuensi tertentu. Frekuensi oscillator lokal untuk FM berkisar dari 98,7 MHz – 118,7 MHz karena Band Width untuk spektrum frekuensi FM Broadcasting (88 MHz – 108 MHz) + Frekuensi IF FM 10,7 MHz.
  6. Penguat IF (IF Amp.) : menguatkan sinyal frekuensi antara (FIF = 10,7 MHz) hasil keluaran dari pencampur. Penguat IF sangat penting karena kekuatan sinyal mengalamai pengurangan selama proses pencampuran (mixing)  sehingga sinyal IF perlu dikuatkan kembali untuk mengembalikan sensitivitas dari penerima.
  7. Limitter : rangkaian yang mempunyai amplitudo output yang konstan untuk semua input yang melebihi level tertentu dengan tujuan menghilangkan noise pada penerima FM. Rangkaian limitter bekerja dengan sistem membatasi/memotong amplitudo yang menyebabkan noise.
  8. Discriminator = FM Detector : berfungsi memungut kembali informasi dari frekuensi tinggi pembawanya. Discriminator dapat juga disebut FM detektor. Dapat juga di definisikan sebagai rangkaian yang merubah variasi frekuensi atau variasi fasa menjadi variasi amplitudo.
  9. Deemphasis Network: berfungsi mengembalikan frekuensi tinggi dari intelejen frekuensi (informasi) kembali pada level amplitudo yang setara dengan frekuensi rendahnya. Seperti diketahui, untuk menekan noise, pada pemancar dilakukan preemphasis dimana level amplitudo frekuensi tinggi dari intelejen frekuensi dinaikkan.
  10. AFC (Automatic Frequency Control): Rangkaian ini berfungsi mengontrol kestabilan frekuensi osilator lokal. Ini dibutuhkan karena ketidak stabilan frekuensi lokal osilator menyebabkan penyimpangan penerimaan frekuensi pembawa.
  11. Penguat Audio (AF Amplifier) : rangkaian yang berfungsi menguatkan sinyal audio (informasi) agar memiliki daya yang cukup kuat untuk menggerakkan beban loudspeaker.
  12. Loudspeaker: tranduser yang berfungsi untuk mengubah sinyal-sinyal listrik audio menjadi sinyal suara akustik yang dapat didengar.

  19

PRINSIP KERJA DAN CONTOH BAGIAN RANGKAIAN

ELEKTRONIKA CASSETTE RECORDER

Pesawat cassette recorder pada dasarnya dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu: bagian mekanik dan rangkaian elektronika.

Secara prinsip bagian mekanik berfungsi untuk memproses pita tape secara mekanik agar mempunyai kecepatan yang konstan dari awal hingga akhir kaset. Pada bagian mekanik juga terdapat head.Tape recorder komersial yang dijual umumnya terdiri dari 2 jenis perekam magnetic (head), yaitu head kombinasi (Rec/Play Head) dan head hapus (erase Head).

Pada mekanik tape terdapat beberapa tombol yang digunakan untuk pengoperasian taperecorder, yaitu:

  1. Play, digunakan untuk menjalankan tape agar berfungsi main ulang (play back),
  2. Open/Eject, digunakan untuk membuka pintu rumah tape kaset,
  3. Pause, digunakan untuk menghentikan sementara puataran motor sehingga kaset akan berhenti,
  4. Fast Forward (FF), digunakan untuk memutar cepat kaset ke arah depan (menggulung maju),
  5. Rewind (RWD), digunakan untuk memutar kaset kea rah belakang (menggulung mundur),
  6. Record (RC), yang digunakan untuk menjalankan tape agar berfungsi untuk merekam dan pada saat pengoperasiannya harus bersamaan dengan tombol Play.

Rangkaian elektronika secara prinsip terdiri dari blok:

  1. Pre amp head (yang mendapat sinyal masukan dari keluaran head yang terdapat pada mekanik tape).  Pre amp head berfungsi untuk menguatkan sinyal-sinyal listrik lemah hasil kerja dari head juga untuk meningkatkan perbabdingan sinyal terhadap noise (S/N ratio). Pada system audio S/N yang baik adalah yeng bernilai tinggi yang berarti bahwa sinyal yang akan diproses harus jauh lebih besar dari pada noise yang dihasilkan. Noise merupakan sinyal pengganggu yang tidak diinginkan, secara praktis semua pesawat yang menggunakan semikonduktor pasti akan menghasilkan noise yang disebut sebagai noise intrinsic, sedangkan noise yang berasal dari luar disebut sebagai noise ekstrinsik.
  2. Pengatur nada, berfungsi untuk mengatur nada, baik nada rendah, tengah maupun tinggi. Secara garis besar daerah pembagian nada dalam teknik audio dikenal nada rendah dari frekuensi 20 Hz – 500 Hz dan pengatur nada yang mengatur frekuensi rendah disebut bass control dan sinyalnya direproduksi oleh loudspeaker jenis woofer. Nada tengah frekuensi 500 Hz – 5 kHz dan pengaturnya disebut sebagai middle cpmtrol serta direproduksi oleh loudspeaker jenis midrange (middle speaker/squaker) sedangkan frekuensi tinggi dari 5 kHz – 20 kHz dan pengaturnya disebut sebagai treble control dan loudspeaker yang mereproduksinya disebut sebagai tweeter. Rangkaian pengatur nada umumnya menggunakan tone control atau equalizer.

Pada tone control terdapat beberapa tombol pengatur lainnya, yaitu:

  1. Volume control yang berfungsi untuk mengatur level amplitude sinyal yang berefek oada pengaturan keras dan lemah suara,
  2. loudness control yang berfungsi untuk mengatur kedalaman suara serta kadang dilengkapi filter untuk menyaring noise,
  3. balance control, yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan kanal kanan dan kiri pada system stereo.
  4. Penguat akhir, berfungsi untuk menguatkan daya-daya sinyal audio yang telah diatur pada rangkaian pengatur nada.
  5. Loudspeaker berfungsi untuk mengubah sinyal-sinyal listrik menjadi sinyal suara mekanis yang dapat didengarkan oleh kita (audiens).

Contoh rangkaian tape recorder lengkap ditunjukkan oleh gambar skema berikut ini.

20

Dari rangkaian di atas dapat dijelaskan pembagian blok dan system kerjanya sebagai berikut:

  1. Head yang dimaksud pada skema dalah head rec/play yang berfungsi untuk mengubah mengubah sinyal-sinyal maggnitisasi pada pita kaset menjadi sinyal-sinyal listrik lemah (tape menjalankan fungsi play back) atau mengubah sinyal-sinyal listrik lemah yang berasal dari mikropon atau perangkat elektronika termasuk alat musik elektronika lainnya menjadi sinyal-sinyal termagnetisasi yang disimpan pada pita kaset (tape menjalankan fungsi record). Head terdapat pada bagian mekanik tape.
  2. Rangkaian pre amp head, dibangun dari 3 tingkat penguat kelas A yang disusun dalam konfigurasi penguat common emitter (perhatikan input diambil dari kaki basis dan output diambil dari collector sedangkan kaki emitter digroundkan), yaitu Q1, Q2, dan Q3. Ketiga tingkat penguat ini berfungsi untuk menguatkan sinyal-sinyal lemah hasil kerja tranducer (head). Rangkaian ini juga berfungsi untuk meningkatkan perbandingan sinyal terhadap noise (S/N ratio). Sinyal keluaran pre amp diteruskan ke volume control melalui kopling C10.
  3. Pengatur nada pada rangkaian menggunakan tone control dengan pengaturan pada bass (jaringan filter LPF/low pass filter dari komponen C18, C19 dan VR2) dan treble (jaringan filter HPF/high pass filter C17, C20, VR3) setelah sebelumnya  level amplitude sinyal diatur oleh volume control (VR1). Sinyal keluaran dari volume control dikuatkan oleh penguat tunggal Q5 dan keluarannya diteruskan ke bass dan treble control melalui kopling C13, Keluaran tone control melalui kopling R24 dan C21 diteruskan ke penguat daya akhir yang menggunakan komponen terintegrasi (IC LA4440) yang mempunyai penguatan daya akhir sekitar 18 Watt.  Tone control yang baik pada bagian input sebelum bass dan treble control biasanya dilengkapi dengan penguat tunggal dalam konfigurasi common collector yang berfungsi sebagai penguat isolasi, yaitu menyekat bagian input yang berimpedansi tinggi dengan output yang berimpedansi rendah.
  4. Daya sinyal-sinyal listrik audio yang telah kuat ini (sekitar 18 Watt) diteruskan ke beban loudspeaker untuk diubah menjadi sinyal-sinyal suara mekanis yang dapat didengarkan oleh kita.
  5. Rangkaian catu daya yang digunakan untuk mensuplai kebutuhan daya ke seluruh bagian rangkaian dibangun dari power supply gelombang penuh menggunakan system jembatan (bridge system) dengan trafo stepdowon engkel. Transistor Q4 digunakan sebagai penstabil tegangan yang akan diberikan ke seluruh system rangkaian.

PERBEDAAN ANTARA PAL,SECAM dan NTSC

Sistem TV broadcasting di dunia secara umum ada 3 macam yaitu PAL, SECAM dan NTSC. Penetapan sistem TV broadcasting di suatu negara harus ditetapkan karena hal ini menyangkut penentuan pembuatan pemancar televisi dan produksi televisi. Masing-masing sistem mempunyai karakteristik sendiri-sendiri sehingga sistem yang satu tidak dapat dijalankan pada sistem lain.
Suatu televisi ketika di set hanya untuk menerima dengan sistem PAL maka tidak bisa dipakai untuk menerima siaran dengan sistem NTSC atau SECAM karena ada perbedaan-perbedaan yang tidak bisa diproses dalam set televisi meskipun frekuensi tersebut dipancarkan pada frekuensi RF yang sama. Analoginya seperti yang dilakukan oleh Malih, Roman dan Nilam. Meskipun berada di jalan yang sama Roman dan Nilam tidak akan menemukan tulisan “Terminal Arjosari – Gadang” pada mobil-mobil yang mereka amati karena tulisan tersebut hanya berada pada mobil berwarna biru.

1.PAL(Phase Alternating Line)
Sebagai salah satu sistem broadcasting yang dipakai oleh sebagian besar negar di dunia.Pada tahun 1950, negara-negara Eropa barat berencana untuk meluncurkan televisi berwarna, saat itu terbentur dengan standar NTSC yang dirasa memiliki beberapa kelemahan termasuk menyesuaian pergeseran warna ketika dalam kondisi transmisi lemah.Tujuannya adalah merancang gambar hanya dengan frekuensi 50 saja per detik.
Dasar dari PAL dan NTSC sebenarnya sama, hanya berbeda pada frekuensi IF saja. PAL menempatkan IFc nya pada frekuensi 4.4361875 MHz sedangkan NTSC menempatkan IFc nya pada 3.579545 MHz. Nama PAL (Phase Alternating Line) diambil karena setiap sinyal video yang dikirimkan dalam keadaan terbalik pada masing-masing garisnya yang secara otomatis akan mengkoreksi error yang terjadi pada sistem transmisi. Contoh di atas hanya diberikan untuk PAL B/G saja, sebenarnya ada banyak jenis PAL dengan berbagai variasinya.Untuk lebih jelasnya silakan melihat pada tabel berikut.

2. NTSC (National Television System Committee)
Model NTSC banyak digunakan di negara Amerika, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan lain-lain.Pada awal penciptaan NTSC tahun 1941 masih berbentuk hitam putih.Perkembangan selanjutnya pada tahun 1953 ada perbaikan yang bisa menampilkan sinyal hitam putih maupun berwarna. Penempatan IFc nya pada 3.58 MHz sehingga penempatan sound berada pada 4.5 MHz.

3. SECAM (Sequential Color with Memory)

Dalam bahasa Perancis tertulis SÉCAM (Séquentiel couleur à mémoire) merupakan sistem televisi analog yang pertma kali digunakan di Perancis.SECAM ini merupakan sistem pemancaran pertama kali dalam sejarah pertelevisian Eropa. SECAM berbeda dengan metode sistem pewarnaan lainnya karena
pertama : SECAM menggunakan modulasi frekuensi untuk mengkodekan sinyal warna
kedua : disamping mentransmisikan informasi merah dan biru secara bersamaan, dan menggunakan informasi tentang warna dalam watu yang hampir bersamaan pula, hal ini tidak mungkin bagi sistem SECAM. Hal ini membutuhkan waktu delay, makanya dibutuhkan sebuah memori analog untuk menyimpan informasi warna dan mengeluarkan secara bersamaan pada layar televisi pada waktu yang ditentukan. Dari tabel di atas jarak P-S tidak tertera karena Sound dipancarkan secar analog sehingga tidak dibutuhkan jarak bandwith dari frekuensi P

Keunggulan Plasma TV

  • Menghasilkan warna hitam yang lebih baik dari LCD TV
  • Contrast rasio yang tinggi (1:2.000.000)
  • Sudut pandang lebih lebih lebar
  • Refresh Rate dan Response Time yang cepat, meminimalisir tampilan gambar kabur

Kelemahan Plasma TV

  • Gambar diam yang ditampilkan dalam waktu yang lama akan menimbulkan burn-in dan gambar berbayang
  • Kualitas gambar akan terus menurun seiring dengan lamanya penggunaan, meskipun dalam jangka waktu yang relatif lama
  • Lebih berat dari LCD
  • Menggunakan daya listrik yang lebih besar dibandingkan dengan LCD TV
  • Ukuran umumnya tidak tersedia di bawah 42 inci.

LCD TV

LCD TV yang di pasaran tampil lebih dulu dari Plasma mengalami penurunan popularitas sejak kemunculan Plasma TV mengingat berbagai kelebihan yang ditawarkan dibandingkan LCD generasi awal.Dengan harga yang jauh lebih mahal untuk ukuran yang lebih kecil, membuat penjualan Plasma meningkat.

Namun demikian, pada perkembangan selanjutnya, LCD TV dengan harga ekonomis dengan berbagai kemajuan teknis, membuat konsumen kembali beralih ke LCD TV.Seiring dengan kemunculan HDTV dan Full HD TV di jajaran produk LCD TV, diikuti dengan ukuran yang besar, harga LCD TV pun juga semakin masuk akal di kantong konsumennya.

Pada dasarnya LCD TV bekerja dengan memproduksi gambar hitam dan berwarna dengan melakukan seleksi cahaya yang dipancarkan oleh serangkaian lampu teknologi CCFLs (Cold Cathode Fluorescent Lamps) di belakang layar. Jutaan lampu tersebut akan dinyalakan dan dimatikan melalui LCD shutter dengan melewatkan cahaya putih dengan  intensitas tertentu. Setiap shutter akan digabungkan dengan filter warna yang akan melewatkan warna Red, Green, dan Blue (RGB). Shutter dan Filter yang masing-masing merupakan sub-pixel ini berukuran sangat kecil, dan secara kasat mata membentuk gabungan yang disebut dengan pixel [3].

Keunggulan LCD TV

  • Menghasilkan warna yang lebih realistis
  • Teknologi anti glare (tanpa bayangan)
  • Tersedia mulai ukuran kecil hingga besar
  • Tidak ada radiasi yang dipancarkan
  • Dapat digunakan sebagai monitor komputer
  • Kebutuhan sumber daya listrik yang lebih rendah dibanding Plasma

Kelemahan LCD TV

  • Kualitas gambar akan menurun apabila dilihat pada sudut pandang yang lebar
  • Untuk ukuran yang besar, harganya lebih mahal apabila dibandingkan dengan Plasma TV
  • Refresh Rate dan Response Time yang jauh lebih rendah dibandingkan Plasma, sehingga kadang menghasilkan gambar yang kabur

LED TV

Beberapa tahun terakhir, pasar televisi digital diramaikan dengan hadirnya sebuah teknologi televisi layar datar yang oleh beberapa vendor elekronik terkemuka disebut dengan LED TV. Vendor yang paling agresif dalam menggelontorkan TV dengan teknologi baru ini antara lain: Samsung Electronics, LG Electronics, Toshiba, dan berbagai vendor terkemuka lainnya.

Pada dasarnya sebenarnya LED TV merupakan pengembangan dari  LCD TV dimana jenis ini menggunakan LED Backlight sebagai pengganti cahaya fluorescent yang digunakan pada jenis LCD TV sebelumnya. Ada dua macam bentuk LED TV yang beredar di pasaran: RGB LED dengan LED yang diletakkan di belakang panel layar, atau EDGE-LED dimana LED diletakkan di sekeliling layar [5].

Kelebihan LED TV

  • Tingkat contrast yang jauh lebih tinggi dibandingkan LCD TV, setara atau bahkan lebih tinggi daripada Plasma TV
  • Memungkinkan produsen untuk memproduksi televisi layar datar dengan ukuran super tipis, dengan ketebalan sekitar 2.5 cm
  • Lebih ramah lingkungan
  • Konsumsi listrik yang lebih rendah sekitar 20-30% dibandingkan LCD TV konvensional
  • Berbagai produk LED TV dari vendor terkenal menawarkan fitur pemrosesan gambar digital, fitur Digital TV Tuner, dan berbagai fitur terbaru lainnya.

Kelemahan LED TV

  • Harga yang sedikit lebih mahal, untuk ukuran dan fitur yang sama, harga LED TV yang termurah sekitar 20% lebih mahal dibanding LCD TV konvensional

Kesimpulan

Secara umum LED TV menawarkan kualitas gambar yang lebih baik apabila dibandingkan dengan LCD TV, khususnya untuk contrast gambar serta kesempurnaan warna hitam, , meskipun bagi sebagian besar orang perbedaan itu tidak terlalu nampak. Hal ini disebabkan karena kualitas LCD TV yang sudah cukup memadai.Apabila dibandingkan dengan plasma, kualitas yang ditawarkan juga setingkat atau bahkan lebih, mengingat LED TV terbaru menawarkan berbagai fitur tambahan untuk mengolah gambar.

Perbedaan harga yang cukup mencolok dengan LCD TV, tidak menyurutkan sebagian orang untuk membeli LED TV, mengingat penampilan LED TV yang lebih tipis dan dengan desain terbaru. Bagi sebagian orang lain yang menempatkan harga di atas berbagai kriteria pembelian TV, nampaknya LCD TV masih menjadi pilihan utama. Plasma sendiri, nampaknya sudah tidak terlalu menarik minat, dan mulai ditinggalkan sejak tahun 2007, mengingat perbedaan harga yg sudah semakin tipis antara LCD TV dan Plasma TV. Desain yang juga terlihat usang juga semakin menyurutkan minat orang yang akan membeli Plasma TV. Panasonic sebagai salah satu produsen yang selama bertahun-tahun kukuh dengan memproduksi Plasma TV untuk ukuran 42 inci ke atas, akhir-akhir ini sudah mulai mengalihkan jajaran TV terbarunya dengan teknologi LCD TV dan LED TV.

Akhirnya, semuanya terpulang kembali kepada calon pembeli. Apabila anggaran yang tersedia mencukupi, pemilihan LED TV nampaknya cukup tepat, mengingat LED TV sudah dipersiapkan untuk teknologi TV digital yang benar-benar akan menggantikan TV analog pada tahun 2018. Namun apabila anggaran terbatas, LCD TV merupakan pilihan yang paling pas, mengingat fitur yang disediakan sudah cukup memadai, lebih ringan, serta lebih hemat energi apabila dibandingkan dengan Plasma TV.

Transistor berfungsi sebagaipenguat isyarat listrik ( sinyal ).

Transistor komponen aktif karenatransistor terbuat dari kristal semikonduktor jenis P dan N yangsaling dipertemukan.

Pada umumnya tansistor jenisPNPdiberi type:

– 2 SA Ὴ.Untuk frekuensitinggi

– 2 SB Ὴ.Untuk frekuensirendah

Sedangkan untuk transistorjenis NPN diberi type:

– 2 SC Ὴ.

Untuk frekuensitinggi

– 2 SD Ὴ.

Untuk frekuensi

CONTOH :

2 SA 70, 2 SA 101, 2 SA 103, 2 SA221, 2 SA 502, dan lain-lain.

2 SB 22, 2 SB 56, 2 SB 135, 2 SB

178, 2 SB 337, dan lain-lain.

2 SC 60, 2 SC 495, 2 SC 553, 2 SC

799, 2 SC 828, dan lain-lain.

2 SD 151, 2 SD 2250, 2 SD 232, 2SD 339, 2 SD 341, dan lain-lain.

Dalam rangkaian elektronika,transistor berfungsi sebagai :

1. Stabilitas tegangan pada adaptor.

2. Pencampur frekuensi pada rangkaianmixer.

3. Pembangkit frekuensi.

4. Penyearah arus pada rangkaianadaptor.

5. penguat arus atau tegangan padaaudio amplifier.

Di dalam pemasangan kaki transistor,kakinya tidak boleh bolak balik antaraEmitor, Basis, dan Colectornya, apabila

terbalik kakinya transistor tidak dapatberfungsi sebagaimana mestinya

Tegangan keluaran pada tabung yaitu :
1. 80 volt : tegangan untuk IC Video di blok Video / RGB
2. 55 volt : teganagn untuk B+ flyback, tapi sebelum sampai flyback tegangan 55 volt ini dinaikkan dulu oleh IRF630/730/…. menjadi tegangan 80 – 125 volt tergantung resolusi monitor yang digunakan. semakin tinggi resolusi monitor semakin tinggi tegangan B+ ini.
3. 12 volt : tegangan untuk IC vertikal dan IC program dan IC oscilator. tegangan ini sangat penting dan kalo bermasalah efeknya monitor jadi kacau.
4. -12 volt : tegangan untuk supply negatif IC vertikal
5. 6,3 volt : tegangan untuk heater. heater adalah filamen di bagian belakang tabung yang fungsinya untuk pemanasan tabung agar timbul elektron. filamen ini mirip lampu pijar.

Rangkaian pembagi tegangan (voltage divider)

Rangkaian pembagi tegangan (voltage divider) disebut juga sebagai rangkaian pembagi potensial (potential divider). Input ke sebuah rangkaian pembagi tegangan adalah tegangan Vin.
Tegangan Vin tersebut menggerakkan arus I untuk mengalir melewati kedua resistor. Karena kedua resistor terhubung secara seri, maka arus yang sama mengalir melewati tiap-tiap resistor.

21Tahanan efektif dari kedua resistor seri ini adalah R1 + R2. Jatuh tegangan pada gabungan kedua resistor ini adalah Vin, menurut Hukum Ohm arus yang mengalir adalah
I = Vin / (R1 + R2)
Tegangan pada R2 menjadi
Vout = I x R2
Mensubstitusikan I dengan persamaan pertama, menghasilkan
Vout = Vin x R2 / (R1 + R2)
Persamaan ini adalah persamaan untuk menghitung tegangan output yang dihasilkan oleh sebuah rangkaian pembagi tegangan. Dengan memilih dua buah resistor dengan nilai tahanan yang sesuai, kita dapat memperoleh nilai tegangan output manapun didalam kisaran 0 V hingga Vin.
Contoh soal:
Pada rangkaian pembagi tegangan seperti gambar diatas, Vin = 6 V, R1 = 220 Ω, dan R2 = 390 Ω. Hitunglah Vout yang dihasilkan
Penyelesaian:
Vout = Vin x R2 / (R1 + R2)
Vout = 6 x 390 / (220 + 390) = 3,84 V

Mengindentifikasi dan Membaca Nilai Kapasitor

Kondensator/Capasitorberfungsi untuk menyimpan energi listrik dalam bentuk muatan listrik.Kondensator/Capasitor ini merupakan komponen elektronika pasif.Kondensator notasinya biasa ditulis dengan huruf C.

Banyaknya muatan listrik per detik ditentukan dalam satuan Qoulomb (Q), sedangkan kemampuan Kondensator/Capasitor menyimpan muatan disebut kapasitansi yang satuannya adalah Farad (F).

Ket :
1 Farad = 1.000.000 uF baca (mikro farad),
1 uF = 1.000 nF baca (nano Farad) dan
1 nF = 1.000 pF baca (piko Farad).

Kondensator/Capasitor terdiri dari dua keping konduktor yang dipisahkan oleh bahan penyekat yang disebut dengan bahan dielektrik, fungsi zat dielektrik adalah untuk memperbesar kapasitansi. Jenis kondensator/kapasitor ini diantaranya adalah : keramik, kertas, kaca, mika, polyister dan elektrolit.

22Kondensator juga memiliki Tegangan kerja (working Voltage) yaitu tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik. Contoh tegangan kerja pada kondensator, apabila pada badan Elco (Condensator Electrolit) tertulis di badannya 220 uF / 25 V, berarti kondensator ini mempunyai kapasitas menyimpan muatan listrik 220 uF, sedangkan tegangan listrik maksimal yang diperbolehkan sampai 25 volt, jika dialiri tegangan listrik lebih dari 25 volt, maka elco ini akan rusak (meledak).

Kondensator/Capasitor Non Polar
Kondensator/Capasitor non polar adalah Capasitor yang elektrodanya tanpa memiliki kutup positif (+) maupun kutup negatif (-) artinya jika pemasangannya terbaik maka Capasitor tetap bekerja.
Contoh Kondensator/Capasitor nonpolar yaitu : Kondensator/Capasitor variable (Varco). Kertas, Mylar, Polyester, Keramik dsb.

Pada Kapasitor angka yang tertulis di badannya merupakan nilai kapasitansi kapasitor tersebut.Apabila pada badannya tertulis satu / dua angka maka bisa kita langsung baca kapasitasnya dengan satuan pF (pico farad).

Contoh, kapasitor keramik diatas tertuliskan dua angka 68, maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 68 pF.Sedangkan jika ada 3 angka, maka angka pertama dan kedua adalah nilai nominal, sedangkan angka ketiga adalah faktor pengali.

Pada gambar diatas tertulis angka 104 berarti angka pertama dan kedua menunjukkan nilai yaitu 10 dan angka ketiga angka 4 yang berarti faktor pengali = 10000, nilai kapasitor keramik tersebut adalah 10 ×10000=100000pF = 100 nF = 0,1 uF , berikut tabel pengali nilai kapasitor :

atau lebih mudahnya lihat gambar berikut :

Angka pertama dan kedua nilai nominal sedangkan angka ketiga banyaknya angka nol. Sehingga nilai capasitor diatas adalah 10000 pF = 10 nF = 0,01 uF

Untuk kapasitor polyester nilai kapasitansinya bisa diketahui berdasarkan warna seperti pada resistor.

23

Contoh : Pada sebuah kapasitor pada badannya berwarna Coklat, Hitam, Orange. maka nilai kapasitansi (lihat tabel) condensator tersebut adalah : 103 = 10 x 1000 = 10000 pF = 10nF = 0,01 uF

JFET-Transistor Symbole

Cara Membaca Capasitor

24

Kapasitor yaitu suatu komponen elektronikayang berfungsi untuk menyimpan muatan atau energi listrik yang dinyatakan dalam satuan farad.

Cara membaca nilai kapasitor bisa berbeda tergantung dari jenisnya, ada yang tercantum pada badan kapasitor ( didalam label ) dan ada juga yang memakai kode warna. pembacaan nilai kapasitor yang memakai kode warna serupa dengan pembacaan pada resistor, yaitu angka pertama menunjukan bilangan puluhan, angka kedua menunjukan bilangan satuan dan angka ketiga menunjukan faktor pengali

Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi biasanya ditulis dengan angka yang jelas.Dilengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya.Contohnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 22uf/25v.

25Pada Kapasitor keramik yang ukuran fisiknya mungil dan kecil umumnya hanya bertuliskan dua atau tiga angka saja. Bila cuma ada dua angka satuannya yaitu pf ( pico farads ). Misalnya, kapasitor yang bertuliskan dua angka 47, maka kapasitansi yaitu 47 pf. Bila ada tiga digit, cara membaca nilai kapasitor yaitu angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal, namun angka ketiga merupakan faktor pengali.

Contoh lain :

1. pada sebuah kapasitor tercantum angka 472 artinya,kapasitas = 47 x 100 = 4700 pf = 4, 7 nf

2. pada sebuah kapasitor tertera : 470 μ ;f, 25v artinya,kapasitas = 470 μ ;f dengan tegangan kerja = 25 volt.

Dibawah ini merupakan tabel pengali nilai kapasitor :

Angka ke-3 Pengali/Multiplier (dua digit pertama memberi Anda nilai di Pico-Farads)
0 1
1 10
2 100
3 1,000
4 10,000
5 100,000
6 not used
7 not used
8 .01
9 .1

Pada beberapa tipe kapasitor ada juga yang memakai toleransi yang umumnya memakai kode huruf :

Simbol huruf Toleransi
D +/- 0.5 pF
F +/- 1%
G +/- 2%
H +/- 3%
J +/- 5%
K +/- 10%
M +/- 20%
P +100% ,-0%
Z +80%, -20%

Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya yaitut 1 = 10, 2 = 100, 3 = 1.000, 4 = 10.000 dan seterusnya.contohnya pada kapasitor keramik tertulis 222, jadi kapasitansinya yaitu 22 x 100 = 2200 pf = 2. 2 nf.

Selain dari kapasitansi, ada beberapa karakteristik lainnya yang harus di perhatikan.Umumnya spesifikasi karakteristik ini di sajikan oleh pabrik pembuat dalam bentuk datasheet.Tabel di bawah ini menunjukan beberapa spesifikasi tersebut.

26

Tegangan kerja Kapasitor

Tegangan kerja yaitu tegangan maksimum yang diiperbolehkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik.Anda mungkin sempat mengalami kapasitor yang meledak lantaran kelebihan tegangan kerja.contohnya kapasitor 10uf 25v, maka tegangan yang dapat diberikan tidak boleh lebih dari 25 volt dc. Biasanya kapasitor polar bekerja pada tegangan searah dc dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan bolak balik ac.

Temperatur kerja kapasitor

Nilai yang diperlihatkan pada badan kapasitor masih memenuhi spesifikasinya bila bekerja pada suhu yang sesuai.Pabrikan pembuat kapasitor biasanya membuat kapasitor yang berpedoman pada standar popular. Terdapat empat standar popular yang umumnya tercantum di badan kapasitor seperti z5u dan y5v ( general purpose ), c0g ( ultra stable ) serta x7r ( stable )  .

pada sebagian besar rangkaian tv umumnya bila terjadi kerusakan terhadap satu nilai di kapasitor maka kapasitor tersebut dapat diganti dengan nilai yang lebih besar atau setidaknya mendekati nilai asli, tetapi tidak semua kapasitor dapat diganti dengan kapasitor pengganti yang tidak sama nilainya, yang umumnya dibagian osilator. Contohnya kapasitor pada osilator power supply yang umumnya memiliki nilai 22-47uf tentunya diganti dengan nilai persis sesuai aslinya, karena nilai tersebut pastilah berpengaruh terhadap tegangan output yang dihasilkan. Demikian artikel perihal tata cara membaca nilai kapasitor.

SCR, TRIAC dan DIAC

Thyristor berakar kata dari bahasa Yunani yang berarti ‘pintu’.Dinamakan demikian barangkali karena sifat dari komponen ini yang mirip dengan pintu yang dapat dibuka dan ditutup untuk melewatkan arus listrik. Ada beberapa komponen yang termasuk thyristor antara lain PUT(programmable uni-junction transistor), UJT (uni-junction transistor ), GTO (gate turn off switch), photo SCR dan sebagainya. Namun pada kesempatan ini, yang akan kemukakan adalah komponen-komponen thyristor yang dikenal dengan sebutan SCR (silicon controlled rectifier), TRIAC dan DIAC. Pembaca dapat menyimak lebih jelas bagaimana prinsip kerja serta aplikasinya.

STRUKTUR THYRISTOR

Ciri-ciri utama dari sebuah thyristor adalah komponen yang terbuat dari bahan semiconductor silicon. Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N junction yang dimilikinya lebih kompleks dibanding transistor bipolar atau MOS. Komponen thyristor lebih digunakan sebagai saklar (switch) ketimbang sebagai penguat arus atau tegangan seperti halnya transistor.

Struktur dasar thyristor adalah struktur 4 layer PNPN seperti yang ditunjukkan pada gambar-1a.Jika dipilah, struktur ini dapat dilihat sebagai dua buah struktur junction PNP dan NPN yang tersambung di tengah seperti pada gambar-1b. Ini tidak lain adalah dua buah transistor PNP dan NPN yang tersambung pada masing-masing kolektor dan base.

100

Gambar-1 : Struktur Thyristor

Jika divisualisasikan sebagai transistor Q1 dan Q2, maka struktur thyristor ini dapat diperlihatkan seperti pada gambar-2 yang berikut ini.

101

Gambar-2 : Visualisasi dengan transistor

Terlihat di sini kolektor transistor Q1 tersambung pada base transistor Q2 dan sebaliknya kolektor transistor Q2 tersambung pada base transistor Q1.

Rangkaian transistor yang demikian menunjukkan adanya loop penguatan arus di bagian tengah. Dimana diketahui bahwa Ic =  Ib, yaitu arus kolektor adalah penguatan dari arus base.

Jika misalnya ada arus sebesar Ib yang mengalir pada base transistor Q2, maka akan ada arus Icyang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini merupakan arus base Ib pada transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan pada arus kolektor transistor Q1. Arus kolektor transistor Q1 tidak lain adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya sehingga makin lama sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan hilang. Tertinggal hanyalah lapisan P dan N dibagian luar.

Jika keadaan ini tercapai, maka struktur yang demikian tidak lain adalah struktur dioda PN (anoda-katoda) yang sudah dikenal. Pada saat yang demikian, disebut bahwa thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus dari anoda menuju katoda seperti layaknya sebuah dioda.

103

Gambar-3 : Thyristor diberi tegangan

Bagaimana kalau pada thyristor ini kita beri beban lampu dc dan diberi suplai tegangan dari nol sampai tegangan tertentu seperti pada gambar 3.Apa yang terjadi pada lampu ketika tegangan dinaikan dari nol. Ya betul, tentu saja lampu akan tetap padam karena lapisan N-P yang ada ditengah akan mendapatkan reverse-bias (teori dioda). Pada saat ini disebut thyristor dalam keadaan OFF karena tidak ada arus yang bisa mengalir atau sangat kecil sekali.Arus tidak dapat mengalir sampai pada suatu tegangan reverse-bias tertentu yang menyebabkan sambungan NP ini jenuh dan hilang.Tegangan ini disebut tegangan breakdown dan pada saat itu arus mulai dapat mengalir melewati thyristor sebagaimana dioda umumnya.Pada thyristor tegangan ini disebut tegangan breakover Vbo.

SCR

Telah dibahas, bahwa untuk membuat thyristor menjadi ON adalah dengan memberi arus trigger lapisan P yang dekat dengan katoda. Yaitu dengan membuat kaki gate pada thyristor PNPN seperti pada gambar-4a. Karena letaknya yang dekat dengan katoda, bisa juga pin gate ini disebut pin gate katoda (cathode gate). Beginilah SCR dibuat dan simbol SCR digambarkan seperti gambar-4b.SCR dalam banyak literatur disebut Thyristor saja.

104

Gambar-4 : Struktur SCR

Melalui kaki (pin) gate tersebut memungkinkan komponen ini di trigger menjadi ON, yaitu dengan memberi arus gate. Ternyata dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) sebuah SCR. Dimana tegangan ini adalah tegangan minimum yang diperlukan SCR untuk menjadi ON. Sampai pada suatu besar arus gate tertentu, ternyata akan sangat mudah membuat SCR menjadi ON. Bahkan dengan tegangan forwardyang kecil sekalipun.Misalnya 1 volt saja atau lebih kecil lagi.Kurva tegangan dan arus dari sebuah SCR adalah seperti yang ada pada gambar-5 yang berikut ini.

105

Gambar-5 : Karakteristik kurva I-V SCR

Pada gambar tertera tegangan breakover Vbo, yang jika tegangan forward SCR mencapai titik ini, maka SCR akan ON. Lebih penting lagi adalah arus Ig yang dapat menyebabkan tegangan Vbo turun menjadi lebih kecil.Pada gambar ditunjukkan beberapa arus Ig dan korelasinya terhadap tegangan breakover. Pada datasheet SCR, arus trigger gate ini sering ditulis dengan notasi IGT (gate trigger current). Pada gambar ada ditunjukkan juga arus Ih yaitu arus holdingyang mempertahankan SCR tetap ON.Jadi agar SCR tetap ON maka arus forward dari anoda menuju katoda harus berada di atas parameter ini.

Sejauh ini yang dikemukakan adalah bagaimana membuat SCR menjadi ON. Pada kenyataannya, sekali SCR mencapai keadaan ON maka selamanya akan ON, walaupun tegangan gate dilepas atau di short ke katoda. Satu-satunya cara untuk membuat SCR menjadi OFF adalah dengan membuat arus anoda-katoda turun di bawah arus Ih (holding current). Pada gambar-5 kurva I-V SCR, jika arus forward berada dibawah titik Ih, maka SCR kembali pada keadaan OFF. Berapa besar arus holding ini, umumnya ada di dalam datasheet SCR.

Cara membuat SCR menjadi OFF tersebut adalah sama saja dengan menurunkan tegangan anoda-katoda ke titik nol. Karena inilah SCR atau thyristor pada umumnya tidak cocok digunakan untuk aplikasi DC. Komponen ini lebih banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi tegangan AC, dimana SCR bisa OFF pada saat gelombang tegangan AC berada di titik nol.

Ada satu parameter penting lain dari SCR, yaitu VGT. Parameter ini adalah tegangan trigger pada gate yang menyebabkan SCR ON. Kalau dilihat dari model thyristor pada gambar-2, tegangan ini adalah tegangan Vbe pada transistor Q2.VGT seperti halnya Vbe, besarnya kira-kira 0.7 volt. Seperti contoh rangkaian gambar-6 berikut ini sebuah SCR diketahui memiliki IGT = 10 mA dan VGT = 0.7 volt. Maka dapat dihitung tegangan Vin yang diperlukan agar SCR ini ON adalah sebesar :

Vin = Vr + VGT

Vin = IGT(R) + VGT = 4.9 volt

106

Gambar-6 : Rangkaian SCR

TRIAC

Boleh dikatakan SCR adalah thyristor yang uni-directional, karena ketika ON hanya bisa melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Struktur TRIAC sebenarnya adalah sama dengan dua buah SCR yang arahnya bolak-balik dan kedua gate-nya disatukan. Simbol TRIAC ditunjukkan pada gambar-6.TRIAC biasa juga disebut thyristor bi-directional.

107

Gambar-7 : Simbol TRIAC

TRIAC bekerja mirip seperti SCR yang paralel bolak-balik, sehingga dapat melewatkan arus dua arah.

Pada datasheet akan lebih detail diberikan besar parameter-parameter seperti Vbo dan -Vbo, laluIGT dan -IGT, Ih serta -Ih dan sebagainya. Umumnya besar parameter ini simetris antara yang plus dan yang minus.Dalam perhitungan desain, bisa dianggap parameter ini simetris sehingga lebih mudah di hitung.

DIAC

Kalau dilihat strukturnya seperti gambar-8a, DIAC bukanlah termasuk keluarga thyristor, namun prinsip kerjanya membuat ia digolongkan sebagai thyristor. DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip seperti transistor. Lapisan N pada transistor dibuat sangat tipis sehingga elektron dengan mudah dapat menyeberang menembus lapisan ini.Sedangkan pada DIAC, lapisan N di buat cukup tebal sehingga elektron cukup sukar untuk menembusnya.Struktur DIAC yang demikian dapat juga dipandang sebagai dua buah dioda PN dan NP, sehingga dalam beberapa literatur DIAC digolongkan sebagai dioda.

108

Gambar-8 : Struktur dan simbol DIAC

Sukar dilewati oleh arus dua arah, DIAC memang dimaksudkan untuk tujuan ini.Hanya dengan tegangan breakdown tertentu barulah DIAC dapat menghantarkan arus.Arus yang dihantarkan tentu saja bisa bolak-balik dari anoda menuju katoda dan sebaliknya. Kurva karakteristik DIAC sama seperti TRIAC, tetapi yang hanya perlu diketahui adalah berapa tegangan breakdown-nya.

Simbol dari DIAC adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar-8b. DIAC umumnya dipakai sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan input tertentu yang relatif tinggi. Contohnya adalah aplikasi dimmer lampu yang dapat dilihat pada gambar-9.

109

Gambar 9 : Rangkaian Dimmer

Jika diketahui IGT dari TRIAC pada rangkaian di atas 10 mA dan VGT = 0.7 volt. Lalu diketahui juga yang digunakan adalah sebuah DIAC dengan Vbo = 20 V, maka dapat dihitung TRIAC akan ON pada tegangan :

V = IGT(R)+Vbo+VGT = 120.7 V

109Pada rangkaian dimmer, resistor R biasanya diganti dengan rangkaian seri resistor dan potensiometer.Di sini kapasitor C bersama rangkaian R digunakan untuk menggeser phasa tegangan VAC. Lampu dapat diatur menyala redup dan terang, tergantung pada saat kapan TRIAC di picu.
1. Emitor bersama (common-emitter)

Rangkaian emitter bersama (common-emitter) adalah rangkaian BJT yang menggunakan terminal emitor sebagai terminal bersama yang terhubung ke sinyal sasis (ground), sedangkan terminal masukan dan keluarannya terletak masing-masing pada terminal basis dan terminal kolektor.

Rangkaian penguat common-emitter adalah yang paling banyak digunakan karena memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari sinyal masukan.Faktor penguatan dari transistor dilambangkan dengan simbol beta (β).

RESISTOR DAN DIODA

RESISTOR

resisitor adalah suatu komponen elektronika yang memberikan hambatan terhadap perpindahan elektron . resistor biasa disingkat dengan huruf “R”. satuan resistor adalah ohm, karena yg menemukan adalah George Ohm (1787-1854), seorang ahli fisika dari Jerman.
resistor tebagi menjadi beberapa jenis AL:

1.   Resistor tetap

Adalah resistor yang nilai hambatanya tidak dapat diubah-ubah.Jadi selalu tetap konstan, resistor ini biasanya dibuat dari nikelin atau karbon.

2.  Resistor tidak tetap manual

Adalah resistor yang nilai hambatanya dapat diubah-ubah sesuai keinginan, dengan cara menggeser atau memutar toggle. Jenis resistor ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu potensiometer rheostat atau biasa disebut “potensiometer” saja dan trimpot(trimer potensiometer). Pada trimpot bagian karbonnya tidak boleh dipegang karena bagian itu sangat sensitif kaya itu aja ya…. he….he….., dan dapat merusak frekuensi.Tetapi sekarang sudah banyak trimpot yang telah dilindungi oleh plastik, jadi, karbonya tidak mungkin tersentuh.

3.  Resistor tidak tetap otomatis

Adalah resistor yang nilai hambatanya dapat berubah-ubah secara otomatis sesuai keadaan        disekitarnya. Contoh dari Resistor tidak tetap otomatis adalah :

  1. NTC(Negative Temperature Coefficient) adalah resistor yang nilai hambatanya akan bertambah kecil bila temperaturnya menjadi panas,.
  2. PTC(Positife Temperature Coefficient) adalah resistor yang nilai hambatanya akan bertambah besar bila temperaturnya menjadi panas.
  3. LDR(Light Dependent Resistor ) adalah jenis resistor yang nilai hambatanya akan berkurang bila terkena cahaya.

KONDENSATOR (KAPASITOR)

Kondensator atau sering disebut juga sebgai kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidak seimbangan  internal dari muatan listrik. Kondensator memilki satuan yang disebut farad, kondensator ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867).

Penggunaan kondensator pada peralatan elektronika adalah sebagai media penyimpanan tenaga listrik, filtering, tuning, penghubung sinyal dari satu rangkaian ke rangkaian yang lain. Berdasarkan kegunaanya ada 3 jenis kondensator yaitu:

1.       Kondensator tetap (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah-ubah). Ada tiga macam bentuk kondensator tetap, sebagai berikut:

  • Kondensator keramik, memiliiki bentuk bulat tipis, ada yang berbentuk  persegi empat berwarna merah, hijau, coklat, dll.dalam pemasangan di papan rangkaian (PCB), boleh dibolak-balik karena tidak mempunyai kaki positif ataupun negative. Mempunyai kapasitas mulai dari beberapa piko farad sampai dengan ratusan kilopiko farad (KpF). Dengan tegangan kerja maksimal 25 volt sampai 100 volt, tetapi ada juga yang samapi ribuan volt.
  • Kondensator polyester, pada dasarnya sama saja dengan kondensator keramik begitu juga cara menghitung nilainya. Bentuknya persegi empat seperti permen. Biasanya mempunyai warna merah, hijau, coklat, dsb.
  • Kondensator kertas, sering disebut juga konddensator padder. Misal pada radio dipasang spul dari osilator ke variabel condensator.

2.       Kondensator elektrolit (elco)

Kondensator elektrolit atau biasa disebut elco adalah kondensator yang berbentuk tabung, mempunyai dua buah kutub kaki, yaitu positif dan negatif, untuk kaki yang negatif pada bagian atas kaki kondensator terdapat tanda garis-garis negatif yang terdapat di badan kondensator. Nilai kapasitasnya dari 0,47 µF (mikro farad) sampai ribuan mikro farad dengan tegangan kerja dari beberapa volt hingga ribuan volt.

3.       Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah-ubah)

Kondensator variabel dan trimmer adalah jenis kondensator yang kapasitasnya dapat diubah-ubah. Kondensator ini dapat brubah kapasitasnya karena secara fisik mempunyai poros yang dapat  diputar dengan menggunakan obeng. Berikut adalah uraian tentang kondensator variabel dan kondensator trimmer.

Kondensator variabel

  • Kondensator variabel terbuat dari logam, mempunyai kapasitas maksimum sekitar 100  pF sampai 500 pF selain itu, kondensator variabel dengan spul antena dan spul osilator berfungsi sebagai pemilih gelombang frekuensi tertentu yang akan ditangkap.

Kondensator trimmer

  • Kondensator trimmer dipasang parallel dengan variabel kondensator berfungsi untuk menepatkan pemilihan gelombang frekuensi. Kondensator trimmer mempunyai kapasitas dibawah 100 pF.

c. Perbandingan Satuan Kondensator

Satuan dalam kondensator disebut Farad. Satu Farad = 9 x 1011 cm2 yang artinya luas permukaan kepingan tersebut 1 Farad sama dengan 106 mikri Farad (µF), jadi 1 µF = 9 x 105 cm2. Berikut satuan yang sering digunakan :

  •  1 farad  =             1.000.000  µF (Mikro Farad)
  • 1 µF        =             1.000.000  pF (Piko Farad)
  • 1 µF        =             1.000 nF (Nano Farad)
  • 1 nF        =             1.000 pF (Piko Farad)
  • 1 pF        =             1.000 µµF (Mikro-mikro Farad)

d. Penbacaan Nilai Kondensator keramik

Linhatlah cara membacanya dengan memperhatikan gambar-gambar berikut ini:

e. Cara Menghitung Nilai Kondensator Polyester

Kondensator ini mempunyai gelang warna pada badanya dan cara menghitungnya hampir sama dengan cara menghitung resistor. Berikut adalah tabel nilai warna kondensator polyester:

f. Cara Menghitung Nilai Kondensator Kertas dan Kondensator Elektrolit

Pada kondensator tersebut tinggal dilihat saja pada badanya

DIODA

Dioda terbuat dari bahan semikonduktor yang saling dipertemukan.Dioda bisa berlaku sebagai sebuah saklar tertutup (apabila bagian anoda mendapatkan tegangan positif, sedangkan katodenya mendapatkan tagangan negatif) dan belaku sebagai saklar terbuka (apabila bagian anoda mendapatkan tegangan negatif, sedangkan katodenya mendapatkan tagangan positif).Kondisi tersebut hanya terjadi pada dioda ideal-konseptual. Pada dioda faktual (rill), perlu tegangan lebih besar dari 0,7 volt (untuk dioda yang terbuat dari bahan silikon) pada anode terhadap katode pada dioda dapat menghantarkan arus listrik. Tegangan sebesar 0,7 volt ini disebut sebagai tegangan halang (barrier voltage). Dioda yang terbuat dari bahan germanium memiliki tegangan halang kira-kira 0,3 volt.

Berdasarkan fungsinya ada 5 jenis dioda sebagai berikut:

1.       Dioda penyearah adalah dioda yang difungsaikan untuk penyearah tegangan  bolak balik menjadi tegangan searah, biasanya digunakan padarangkaian power supply.

2.       Dioda pemancar cahaya atau LED adalah dioda yang memancarkan cahaya bila dipanjar maju. LED  dibuat dari semikonduktor campuran, seperti, galium arsenida fosfida (GaAsP), galium fosfida (GaP), gallium indium fosfida (GaInP, dan galium aluminium arsenida (GaAlAs)).

3.       Dioda foto (fotovoltanic) digunakan untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik searah.

4.       Dioda laser digunakan untuk membangkitkan sinar laser taraf rendah, cara kerjanya mirip LED.

5.       Dioda zener digunakan untuk regulasi tegangan.

Mengenal SCR (Silicon Controlled Rectifier)

SCR atau singkatan dari Silicon Controlled Rectifier adalah komponenpenyearah yang mempunyai bagian pengontrol yang disebut Gate.Arus masuk pada gate menentukan tegangan antara Anoda dan Katoda, dimana SCR mulai mengantarkan arus atau tidak pada setengah perioda postitif sinyal masukan sinusioda.Gambar di samping merupakan simbol SCR.

SCR banyak digunakan pada alat-alat pengontrol tenaga listrik, seperti inverter atau lighting unit.

Komponen-komponen lain mempunyai prinsip kerja yang sama seperti SCR antara lain: DIAC, TRIAC dsb. Semua komponen tersebut mempunyai nama bersama yaitu teristor (thyristors), berasal dari kata thyraton dan transistor. Thyraton merupakan komponen berupa tabung elektronik yang berisi gas dengan prinsip kerja seperti SCR.

Gambar di atas menggambarkan konstruksi dasar SCR. Dari gambar tersebut SCR disebut jugaFour layer device, karena SCR merupakan komponen dengan empat lapisan atau PNPN. SCR disusun oleh suatu lapisan bahan semi konduktor bahan P, bahan N, bahan P dan bahan N. SCR dapat digambarkan pula sebagai transistor Q1 dan Q2, dimana transistor tersebut berjenis PNP dan NPN.

Bias dalam Transistor BJT

Analisis atau disain terhadap suatu penguat transistor memerlukan informasi mengenai respon sistem baik dalam mode AC maupun DC.
Kedua mode tersebut bisa dianalisa secara terpisah. Dalam tahap disain maupun sintesis, pilihan parameter untuk level DC yang dibutuhkan akan mempengaruhi respon AC-nya. Demikian juga sebaliknya.

Dalam mencari solusi dari suatu rangkaian, umumnya nilai arus basis IB yang pertama dihitung.Ketika IB sudah diperoleh, hubungan persamaan di… atas bisa digunakan untuk mencari besaran yang diinginkan.

Titik Operasi (Q)

Bias pemberiaan tegangan DC untuk membentuk tegangan dan arus yang tetap.
Tegangan dan arus yang dihasilkan menyatakan titik operasi (quiescent point) atau titik Q yang menentukan daerah kerja transistor.

Pada gambar di bawah ditunjukkan 4 buah titik kerja transistor. Rangkaian bias bisa di-disain untuk memperoleh titik kerja pada titik-titik tersebut, atau titik lainnya dalam daerah aktif. Rating maksimum ditentukan oleh Icmax dan VCE max.

Daya maksimum dibatasi oleh kurva Pcmax. BJT bisa di-bias di luar batasan maksimum tersebut, tapi bisa memperpendek usia piranti atau bahkan merusaknya.

Untuk kondisi tanpa bias, piranti tidak bekerja, hasilnya adalah titik A dimana arus dan tegangan bernilai nol.

Tabel Fixed Bias

Supaya BJT bisa di-bias dalam daerah linear (daerah aktif), beberapa syarat berikut harus dipenuhi:

– Junction base-emitter dibias maju (forward bias)
– Junction base-collector dibias mundur (reverse bias)

Daerah kerja transistor (cut-off, aktif atau saturasi) ditentukan oleh bias yang diberikan pada masing-masing junction :

1. Daerah aktif/daerah linear

– Junction base-emitter dibias maju (forward bias)
– Junction base-collector dibias mundur (reverse bias)

2. Daerah saturasi

– Junction base-emitter dibias maju (forward bias)
– Junction base-collector dibias maju (forward bias)

3. daerah cut-off

– Junction base-emitter dibias mundur (reverse bias)
– Junction base-collector dibias mundur (reverse bias)

Fixed Bias ditunjukkan pada gambar berikut :

Rangkaian di atas menggunakan transistor npn. Untuk transistor pnp, persamaan dan perhitungan adalah serupa, tapi dengan arah arus dan polaritas tegangan berlawanan.
Untuk analisis DC, rangkaian bisa di-isolasi (dipisahkan) dari input AC dengan mengganti kapasitor dengan rangkaian terbuka (open circuit).

Untuk tujuan analisis, supply tegangan VCC bisa dipisahkan menjadi dua, masing-masing untuk input dan output. Rangkaian pengganti DC menjadi :

Bias Maju Basis Emitter

Loop Basis Emitter

Dengan hukum tegangan Kirchhoff :

-VCC + IBRB + VBE = 0

Perhatikan polaritas tegangan drop di RB.

Arus basis IB menjadi :

IB = VCC – VBE / RB

dan

VBE = VB – VE

Loop collector-emitter

VCE = VCC – ICRC
VCE = VC – VE

Transistor saturasi jika juction base collector tidak lagi di bisa mundur

Bias Emitter Stabil

Loop Base-Emitter

VCC – IBRB – VBE – IERE = 0

Loop Collector – Emitter
VCC = IERE + VCE + ICRC

Saturasi :
ICsat = VCC/(RC+RE)

Bias Pembagi Tegangan

Bias Umpan Balik

Untuk meningkatkan stabilitas bisa dilakukan dengan memberikan umpan balik dari collector menuju base.

VCC – I’CRC – IBRB –VBE-IERE = 0

Perhatikan bahwa arus IC yang masuk ke kaki collector berbeda dengan I’C, dimana :

I’C = IB + IC

Tapi nilai IB yang jauh lebih kecil bisa diabaikan untuk memperoleh persamaan yang lebih sederhana (asumsi I’C ≅ IC ≅ βIB dan IC ≅ IE):

sehingga,

Hukum kirchhoff pada bagian output :

-VCB – ICRC + VCC = 0
VCB = VCC –ICRC

Dengan asumsi IC ≅ IE
Maka :
VCB = 10 – 2,75 mA x 2,4 KΩ
= 3,4 V

IB = IC/β = 45,8 µA

Disain Bias dalam Transistor

Proses disain adalah proses sintesis dimana diberikan nilai tegangan atau arus, dan berdasar itu dihitung elemen yang diperlukan untuk bisa memenuhi syarat yang diberikan.

Demikian pembahasan Elektro mengenai Bias dalam Transistor BJT

Diagram Blok Radio Penerima FM Superheterodyne Fungsi tiap bagian pada blok diagram radio penerima FM supereheterodyne diatas dapat diuraikan sebagai berikut. Antena penerima (Receiving Antena) : berfungsi menangkap gelombang elektromagnetik termodulasi yang bersal dari antena pemancar radio. Penguat RF (RF Amplifier) : berfungsi unutk menguatkan sinyal yang ditangkap oleh antena sebelum diteruskan ke bagian Mixer (pencampur). Oscilator lokal (Local Oscilator) : berfungsi untuk mebangkitkan gelombang frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi sinyal keluaran RF (10,7 MHz lebih tinggi dari RF). Dimana hasilnya akan diteruskan ke bagian Mixer. Mixer (pencampur) : Berperan untuk mencampurkan kedua frekuensi yang berasal dari RF Amplifier dan Osilator Lokal. Hasil dari pencampuran sinyal pada mixer adalah Intermediate Frequency (IF) dengan besar 10,7 MHz. Penguat IF (IF Amplifier) : digunakan untuk menguatkan Frekuensi Intermediet (IF) sebelum diteruskan ke blok limiter. Limiter (pembatas) : berfungsi unutk meredam amplitudo gelombang yang sudah termodulasi (sinyal yang dikirim pemancar) agar terbentuk sinyal FM murni (beramplitudo rata). AGC Detector (Automatic Gain Control / Pengendali Penguatan Otomatis) : berfungsi unutk mengatur tegangan output limiter secara otomatis agar tetap stabil. Discriminator (Detektor FM) : berfungsi untuk membuang frekuensi termodulasi dan mengambil isyarat informasi untuk diteruskan ke penguat audio dengan cara mendeteksi perubahan frekuensi bermodulasi, menjadi sinyal informasi (Audio).

De-emphasis : berfungsi untuk menekan frekuensi audio yang besarnya berlebihan (tinggi) yang dikirim oleh pemancar. Penguat Audio (Audio Amplifier) : berfungsi untuk menguatkan level sinyal audio dan kemudian diteruskan ke suatu pengeras suara. Speaker (pengeras suara) : berfungsi untuk mengubah sinyal atau getaran listrik dengan frekuensi audio (AF) menjadi getaran suara yang dapat didengar oleh telinga manusia. Prinsip Kerja Bagian Tuner (Penala) Radio Penerima FM Superheterodyne Prinsip kerja tuning (penalaan) radio penerima FM superheterodyne terletak pada bagian RF amplifier dan oscilator lokal dimana oscilator lokal akan menghasilkan frekuensi 10,7 MHz lebih tinggi dari frekuensi RF yang diterima. Pada sistem kerja radio penerima FM super heterodyne mengunkan rumus tuning sebagai berikut. Dimana : fc = Frekuensi RF yang diterima fosc = Frkeunsi oscilator lokal fif = Frekuensi IF Dengan demikian, frekuensi osilator lokal pada radio penerima FM superheterodyne dapat diubah dari 98,7 MHz sampai 118,7 MHz, sehingga dari Pencampur menghasilkan suatu frekuensi IF 10,7 MHz.

Kumparan ( induktor )

Kawat ialah tali yang terbuat dari logam.
Kawat – Listrik biasanya dibuat dari tembaga untuk menghantarkan listrik.
Catatan : Lainnya mungkin kawat – listrik terbuat dari Alumunium ( seperti kawat listrik untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN)).
Belit ialah lingkaran tali atau benang.
Lilit ialah kebatan yang membelit-belit.
Lilitan ialah hasil melilit.
Gulung ialah benda yang berlembar – lembar atau berutas-utas yang dilipat menjadi berbentuk bulat.Kumpar ialah menggulung kawat ( tembaga ) pada sebuah gelondong.
Kumparan ialah hasil menggulung kawat ( tembaga ) pada sebuah gelondong.
Berarti kumparan terdiri dari beberapa gulung dan gulungan terdiri dari beberapa lilitan.
Kumparan yang berinti udara dengan hambatan rendah yang mengatur arus,tegangan listrik yang berasal dari sumbernya disebut koil ( coil ).
Koil seperti magnet batang yang mempunyai kutub utara dan selatan dimana posisi arah kutub itu dapat di ubah dengan mengubah arah masuk arus listrik ke koil itu.
Kawat tembaga untuk membuat koil telah dilapisi bahan isolator.
Apakah INDUKTOR itu?
Bentuk dasar dari induktor ialah koil.
Induktor ialah komponen elektronika yang berbentuk kumparan untuk menyimpan energi dalam bidang magnetik ( medan magnet ) dan merupakan komponen pasif.
Bidang magnetik yang terbentuk karena arus yang mengalir pada kumparan tersebut.
Kemampuan induktor untuk menyimpan energi dalam bidang magnetik disebut induktansi
Energi yang tersimpan dalam satuan Joule.

Simbol induktor : “ L ”
Satuan induktansi ialah henry (H ).
Induktor dapat melawan arus bolak-balik (AC resistors ) dan melewatkan arus Searah (DC).
Induktor ialah suatu koil yang telah menggunakan inti magnetik.

I. INTI MAGNETIK INDUKTOR

1. Berrdasarkan konstruksi inti magnetik:
a. Konstruksi jenis cangkang ( shell type Construction ).
Pada konstruksi jenis cangkang,inti mengepung ( surrounds ) koil itu.
Disini medan magnet adalah di sekitar bagian luar dari koil itu.
Keuntungan dari bentuk wujud ini bahwa itu memerlukan hanya satu koil
b. Konstruksi jenis inti.( core type Construction ).
Pada konstruksi jenis inti dimana koil adalah di luar inti itu.
Disini medan magnet adalah di sekitar bagian dalam dari koil itu.
Suatu contoh kebaikan ini adalah suatu toroida, di mana koil pada posisi atas di luar dari inti.

2. Berdasarkan jenis material dasar untuk membuat inti magnetik
a. Bahan Logam curah ( Metal bulk material ).

Logam – logam curah diproses dari tungku perapian ke dalam batang logam ( ingot ).
Kemudian, material memasuki suatu proses dari panas dan dingin secara bergantian.
Proses yang bergantian menghasilkan suatu lembar material dengan suatu ketebalan berkisar antara 0.004 hingga 0.031 inci yang dapat dihantam ke dalam laminasi.
Itu dapat digulung lebih lanjut ke ketebalan berkisar antara 0.002 hingga 0.000125 inci, kemudian ke dalam bentuk inti, seperti inti C, toroid dan inti E.

b. Bahan Serbuk ( powdered materials ).

Bahan inti serbuk, seperti Inti serbuk molypermalloy powder ( MPP ) dan Inti serbuk besi ( iron powder ) adalah die-pressed ke dalam bentuk toroid, inti E dan slugs.
Proses awal inti serbuk di mulai dari batang logam, kemudian berlanjut berbagai langkah-langkah penggerindaan sampai konsistensi bubuk baik untuk kemampuan yang diperlukan itu.

c. Bahan Ferrit ( ferrite material ).

Bahan inti Ferrit adalah material keramic dari besi oksida, yang dicampur dengan oksida atau karbonat dari mangan,seng, nikel, magnesium, atau kobalt.
Campuran ini dipilih dan dicampur, didasarkan pada permeabiliti dari inti.
Kemudian, campuran ini dibentuk ke dalam bentuk yang diinginkan dengan tekanan kira-kira 150-200 ton per inci kuadrat dan dan dipanasi pada suhu di atas 2000 derajat farenheit.

3. Berdasarkan Jenis – jenis inti magnetik
a. Inti Toroida
Solenoida ialah suatu kumparan kawat yang rapat.
Toroida ialah solenoida yang di lengkukan sumbunya membentuk suatu lingkaran.
b. Inti bentuk huruf
Umumnya huruf kapital seperti “E”, “C” ,“I”,”F” dan lainnya
II. KATEGORI INDUKTOR

1. Berdasarkan nilai tetap ( fixed value ).
Yaitu induktor yang nilai induktansinya telah di tetapkan.
A. Model – model induktor tetap:
a. Model Varnished
Contoh : RF Choke ,VF Chokes dan lainnnya
b. Model Heavy duty
Contoh : Toroid, Spoel antena dan lainnya
c. Model Shielded
Contoh Transformer,Color band inductor dan lainnya

B. Cara Membaca induktor nilai tetap :
1) Dengan kode warna.
Kode warna yang ditetapkan oleh RMA ( Radio Manufactures Association)ini menentukan besarnya nilai induktansi dari induktor dalam micro henry ( uH ).

Contoh:
Diketahui:
Cincin 1 : Merah
Cincin 2 : Ungu
Cincin 3 : Orange
Cincin 4 : Emas
Ditanya: nilai induktor dan jangkauan nilainya?
Jawab:
Berarti nilainya 27000 microhenry ± 5%
Nilai induktansi toleransinya: ( 5/100 ) x 27.000 =1350 microhenry
Nilai induktansi terbesar : 27.000 + 1350 = 28.350 microhenry
Nilai induktansi terkecil: 27.000 – 1350 = 25.650 microhenry
Maka jangkauan nilainya berkisar antara 25.650 microhenry hingga 28.350 microhenry.

2) Dengan huruf dan angka.
Satuan untuk induktor dengan kode huruf dan angka dalam MikroHenry ( uH ) dengan tiga angka:
• Angka pertama dan kedua merupakan nilai awal induktansi.
• Angka ketiga merupakan faktor pengali atau banyaknya nol.
• Huruf awal “R” menghadirkan tanda desimal.
• Huruf akhir merupakan nilai toleransi dimana “J = 5% ; K= 10%; M = 20% “
Induktansi induktor = nilai awal induktansi x faktor pengali
Contoh :
Diketahui : Tertulis di badan beberapa induktor ialah R10,1R0,100,101,102,103
Ditanya: Berapa nilai induktansinya ?
Jawab:
R10 = 0.1 uH
1R0 = 1 uH
100 = 10 uH
101 = 100 uH
102 = 1000 uH ( 1mH)
103 = 10000 uH (10mH)

2. Berdasarkan nilai tidak tetap ( adjustable value ).
Yaitu induktor yang nilai induktansinya berubah dengan cara memutar asnya.
Model induktor nilai tidak tetap ialah:
A. Model Shielded
Contoh : Medium Frequency transformer atau Intermediate Frequency Transformer
B. Model UnShielded
Contoh : Spoel Oscilator

DIODA

DIODA adalah sambungan bahan p-n yang berfungsi terutama sebagai penyearah. Bahan tipe-p akan menjadi sisi anode sedangkan bahan tipe-n akan menjadi katode. Bergantung pada polaritas tegangan yang diberikan kepadanya, diode bisa berlaku sebagai sebuah saklar tertutup (apabila bagian anode mendapatkan tegangan positif sedangkan katodenya mendapatkan tegangan negatif) dan berlaku sebagi saklar terbuka (apabila bagian anode mendapatkan tegangan negatif sedangkan katode mendapatkan tegangan positif).Kondisi tersebut terjadi hanya pada diode ideal-konseptual.Pada diode faktual (riil), perlu tegangan lebih besar dari 0,7V (untuk diode yang terbuat dari bahan silikon) pada anode terhadap katode agar diode dapat menghantarkan arus listrik.Tegangan sebesar 0,7V ini disebut sebagai tegangan halang (barrier voltage).Diode yang terbuat dari bahan Germanium memiliki tegangan halang kira-kira 0,3V.

MACAM2 DIODA
Light Emmiting Dioda atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju.
Gejala ini termasuk bentuk elektroluminesensi.Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan semikonduktor yang dipakai, dan bisa juga dekat ultraviolet, tampak, atau inframerah.

Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda dengan dioda biasa, komponen elektronika ini akan mengubah cahaya menjadi arus listrik. Cahaya yang dapat dideteksi oleh dioda foto ini mulai dari cahaya infra merah, cahaya tampak, ultra ungu sampai dengan sinar-X. Aplikasi dioda foto mulai dari penghitung kendaraan di jalan umum secara otomatis, pengukur cahaya pada kamera serta beberapa peralatan di bidang medis.
Alat yang mirip dengan Dioda foto adalah Transistor foto (Phototransistor).Transistor foto ini pada dasarnya adalah jenis transistor bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector untuk menerima cahaya.Komponen ini mempunyai sensitivitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan Dioda Foto.Hal ini disebabkan karena elektron yang ditimbulkan oleh foton cahaya pada junction ini di-injeksikan di bagian Base dan diperkuat di bagian Kolektornya. Namun demikian, waktu respons dari Transistor-foto secara umum akan lebih lambat dari pada Dioda-Foto.

Dioda laser adalah sejenis laser di mana media aktifnya sebuah semikonduktor persimpangan p-n yang mirip dengan yang terdapat pada dioda pemancar cahaya.Dioda laser kadang juga disingkat LD atau ILD.
Dioda laser baru ditemukan pada akhir abad ini oleh ilmuwan Universitas Harvard. Prinsip kerja dioda ini sama seperti dioda lainnya yaitu melalui sirkuit dari rangkaian elektronika, yang terdiri dari jenis p dan n. Pada kedua jenis ini sering dihasilkan 2 tegangan, yaitu:

  1. biased forward, arus dihasilkan searah dengan nilai 0,707 utk pembagian v puncak, bentuk gelombang di atas ( + ).
  2. backforward biased, ini merupakan tegangan berbalik yang dapat merusak suatu komponen elektronika.

Dioda Zener Sebuah dioda biasanya dianggap sebagai alat yang menyalurkan listrik ke satu arah, namun Dioda Zener dibuat sedemikian rupa sehingga arus dapat mengalir ke arah yang berlawanan jika tegangan yang diberikan melampaui batas “tegangan rusak” (breakdown voltage) atau “tegangan Zener”.

Dioda yang biasa tidak akan mengijinkan arus listrik untuk mengalir secara berlawanan jika dicatu-balik (reverse-biased) di bawah tegangan rusaknya. Jika melampaui batas tegangan rusaknya, dioda biasa akan menjadi rusak karena kelebihan arus listrik yang menyebabkan panas. Namun proses ini adalah reversibel jika dilakukan dalam batas kemampuan. Dalam kasus pencatuan-maju (sesuai dengan arah gambar panah), dioda ini akan memberikan tegangan jatuh (drop voltage) sekitar 0.6 Volt yang biasa untuk dioda silikon. Tegangan jatuh ini tergantung dari jenis dioda yang dipakai.

Sebuah dioda Zener memiliki sifat yang hampir sama dengan dioda biasa, kecuali bahwa alat ini sengaja dibuat dengan tengangan rusak yang jauh dikurangi, disebut tegangan Zener. Sebuah dioda Zener memiliki p-n junction yang memiliki doping berat, yang memungkinkan elektron untuk tembus (tunnel) dari pita valensi material tipe-p ke dalam pita konduksi material tipe-n. Sebuah dioda zener yang dicatu-balik akan menunjukan perilaku rusak yang terkontrol dan akan melewatkan arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh supaya tetap pada tegangan zener. Sebagai contoh, sebuah diode zener 3.2 Volt akan menunjukan tegangan jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik. Namun, karena arusnya tidak terbatasi, sehingga dioda zener biasanya digunakan untuk membangkitkan tegangan referensi, atau untuk menstabilisasi tegangan untuk aplikasi-aplikasi arus kecil.
Tegangan rusaknya dapat dikontrol secara tepat dalam proses doping. Toleransi dalam 0.05% bisa dicapai walaupun toleransi yang paling biasa adalah 5% dan 10%.
Efek ini ditemukan oleh seorang fisikawan Amerika, Clarence Melvin Zener.
Mekanisme lainnya yang menghasilkan efek yang sama adalah efek avalanche, seperti di dalam dioda avalanche. Kedua tipe dioda ini sebenarnya dibentuk melalui proses yang sama dan kedua efek sebenarnya terjadi di kedua tipe dioda ini. Dalam dioda silikon, sampai dengan 5.6 Volt, efek zener adalah efek utama dan efek ini menunjukan koefisiensi temperatur yang negatif. Di atas 5.6 Volt, efek avalanche menjadi efek utama dan juga menunjukan sifat koefisien temperatur positif.
Dalam dioda zener 5.6 Volt, kedua efek tersebut muncul bersamaan dan kedua koefisien temperatur membatalkan satu sama lainnya. Sehingga, dioda 5.6 Volt menjadi pilihan utama di aplikasi temperatur yang sensitif.
Teknik-teknik manufaktur yang modern telah memungkinkan untuk membuat dioda-dioda yang memiliki tegangan jauh lebih rendah dari 5.6 Volt dengan koefisien temperatur yang sangat kecil.Namun dengan munculnya pemakai tegangan tinggi, koefisien temperatur muncul dengan singkat pula.Sebuah dioda untuk 75 Volt memiliki koefisien panas yang 10 kali lipatnya koefisien sebuah dioda 12 Volt.
Semua dioda di atas, tidak perduli berapapun tenganan rusaknya, biasanya dijual dinamakan dioda Zener.

Dioda SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier.Adalah Dioda yang mempunyai fungsi sebagai pengendali.SCR atau Tyristor masih termasuk keluarga semikonduktor dengan karateristik yang serupa dengan tabung thiratron. Sebagai pengendalinya adalah gate (G). SCR sering disebut Therystor.SCR sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN (Positif Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda.

Keguna SCR:
Sebagai rangkaian Saklar (switch control)
Sebagai rangkaian pengendali (remote control)

Dioda adalah bentuk sederhana dari semikonduktor.Semikonduktor digunakan untuk mengendalikan arah elektron.Dioda mempunyai dua buah terminal yaitu Anoda dan Katoda.Resistansi untuk arah arus dari Anoda ke Katoda sangat kecil, sedangkan untuk arah arus dari Katoda ke Anoda sangat besar.Sehingga dioda dapat digunakan sebagai katup elektron searah.Elektron dapat melewati dioda pada satu arah (Anoda ke Katoda) tetapi tidak pada arah sebaliknya.

Gambar 1. Tanda strip pada badan Dioda menandakan kaki Katoda.

Jenis-jenis dioda dan penggunaanya antara lain:

  • Zener : Sebagai pembatas dan penentu tegangan. Kamu bisa membuat regulator tegangan yang mudah dan murah dengan menggunakan dioda zener.
  • Light Emiting Diode (LED) : Saat dialiri arus, semua semikonduktor memancarkan sinar infra merah. LED menghasilkan sinar yang dapat dilihat.
  • Silicon Controlled Rectifier (SCR) : SCR merupakan saklar elektronik yang bisa mengendalikan arus AC atau DC. SCR biasanya dijumpai pada rangkaian dimmer lampu.
  • Rectifier : Rectifier berfungsi sebagai penyearah Arus ( AC ke DC ). Biasanya Rectifier lebih dikenal sebagai Dioda karena penyearah arus ialah fungsi dasar dari dioda, tetapi lebih spesifik lagi merupakan fungsi dari rectifier.
  • Bridge Rectifier : Terdiri dari empat buah rectifier yang berhubungan satu sama lain ( membentuk formasi kotak ). Bridge rectifier menyearahkan arus ( AC ke DC ) dengan lebih efisien. Lihat gambar 2!

Gambar 2.Dioda menyearahkan arus AC ke DC.

Tidak seperti resistor dan kapasitor, dioda tidak mempunyai nilai yang spesifik ( kecuali zener ). Tetapi bukan berarti semua dioda sama. Dioda di nilai dengan dua kriteria yaitu:

  • Peak Inverse Voltage ( PIV ) rating. Menunjukkan tegangan kerja maksimum dari dioda tersebut, contohnya jika nilai dari suatu dioda 100V, dioda tersebut tidak bisa digunakan pada tegangan kerja yang lebih dari 100V.
  • Current rating. Menunjukkan arus maksimum yang dapat melewati suatu dioda.

Dioda diidentifikasikan dengan sistem penomoran standard industri.Contohnya dioda rectifier 1N4001 mempunyai nilai 1.0 PIV 50 volt.1N4002 mempunyai nilai 100 volt, 1N4003 mempunyai nilai 200 volt dan seterusnya.Informasi tentang PIV sebuah dioda bisa kamu lihat di datasheetnya.

TES DIODA

Transistor

Woollard (1993: 70) menyatakan bahwa transistor merupakan alat dengan tiga terminal seperti yang diperlihatkan oleh simbol sirkit pada gambar 1. Setelah bahan semikonduktor dasar diolah, terbentuklah bahan semikonduktor jenis P dan N. Walaupun proses pembuatannya banyak, pada dasarnya transistor merupakan tiga lapis gabungan kedua jenis bahan tadi, yaitu NPN atau PNP.

Gambar 1, Simbol sirkit untuk transistor (a) PNP, (b) NPN

Simbol sirkit kedua jenis transistor itu hampir sama. Perbedaannya terletak pada arah tanda panah di ujung emitter, seperti yang telah diketahui, arah tanda panah ini menunjukkan arah aliran arus konversional yang berlawanan arah dalam kedua jenis tadi tetapi selalu dari jenis P ke jenis N dalam sirkit emitter dasar.

Gambar 1 Bentuk nyata transistor

Transistor NPN

Menurut Woollard (1993: 70) Kolektor dan emitter merupakan bahan N dan lapisan diantara mereka merupakan jenis P. Pada mulanya diperkirakan bahwa transistor seharusnya bekerja dalam salah satu arah, ialah dengan saling menghubungkan ujung-ujung kolektor dan emitter karena mereka terbuat dari jenis bahan yang sama. Namun, hal ini tidaklah mungkin karena mereka tidak berukuran sama. Kolektor berukuran lebih besar dan kebanyakan dihubungan secara langsung ke kotaknya untuk penyerapan panas. Ketika transistor digunakan hampir semua panas yang terbentuk berada pada sambungan basis kolektor yang harus mampu menghilangkan panas ini. Sambungan basis emitter hanya mampu menahan tegangan yang rendah.

Operasi dalam arah balik dapat dijalankan tetapi tidak efisien, sehingga tidak sesuai dengan metode hubungan praktis karena sangat sering merusakkan alat. Pada umumnya transistor dianggap sebagai suatu alat yang beroperasi karena adanya arus. Kalau arus mengalir ke dalam basis dan melewati sambungan basis emitter suatu suplai positif pada kolektor akan menyebabkan arus mengalir diantara kolektor dan emitter. Dua hal yang harus diperhatikan pada arus kolektor adalah :

1. Untuk arus basis nol, arus kolektor turun sampai tingkat arus kebocoran yaitu kurang dari 1 F dalam kondisi normal (untuk transistor silikon).

2. Untuk arus basis tertentu, arus kolektor yang mengalir akan jauh lebih besar daripada arus basis itu. Arus yang dicapai ini disebut hFE, dengan

dimana, iC = perubahan arus kolektor

iB = perubahan arus basis

hFE = arus yang dicapai

Transistor PNP

Transistor PNP beroperasi dengan cara yang sama dengan piranti NPN. Gambar dibawah ini akan memperlihatkan suatu transistor PNP yang dibias untuk beroperasi dalam mode aktif. Disini tegangan VEB menyebabkan emitter tipe P potensialnya lebih tinggi dari basis tipe –N, sehingga persambungan basis emitter menjadi bias maju. Persambungan kolektor basis dibias balik oleh tegangan VBC yang menjaga basis tipe-N berpotensial lebih tinggi dibandingkan kolektor tipe-P. Tidak seperti transistor NPN, arus dalam piranti PNP terutama disebabkan oleh lubang yang diinjeksikan dari emitter ke dalam basis sebagai tegangan bias maju VEB. Karena komponen arus emitter yang disebabkan elektron yang diinjeksikan dari basis ke emitter dijaga agar kecil dengan menggunakan basis doping ringan, sebagian besar arus emitter disebabkan oleh lubang. Elektron yang diinjeksi dari basis ke emitter menghasilkan komponen dominan arus basis iB1. Demikian juga lubang yang diinjeksi ke dalam basis akan berkombinasi dengan pembawa mayoritas dalam basis (elektron) dan hilang. Hilangnya elektron basis harus diganti dari rangkaian luar yang menimbulkan komponen kedua arus basis iB2. lubang-lubang yang berhasil mencapai batas daerah pengosongan persambungan basis kolektor akan tarik oleh tegangan negatif pada kolektor. Jadi lubang-lubang ini akan disapu melintasi daerah pengosongan ke dalam kolektor dan timbul sebagai arus kolektor.

Karakteristik Operasi Transistor

Karakteristik operasi tiap transistor yang menyatakan spesifikasinya tidak boleh dilampaui. Lembaran data memberikan nilai-nilai penting, beberapa diantaranya diberikan dibawah ini dan diperlihatkan pada gambar 2.

VCBO = tegangan basis kolektor maksimum (kolektor +ve)

VCEO = tegangan emitter kolektor maksimum (kolektor + ve)

VEBO = tegangan basis emitter maksimum (emitter + ve)

Ptot = total daya yangdiperlukan oleh transistor.

Gambar 2. Karakteristik operasi tegangan transistor

Transistor Sebagai Saklar

Menurut Barry Woollard (1993: 73) mengatakan bahwa jika arus basis IB nol, arus kolektor IC akan menjadi arus kebocoran yang rendah dan tegangan yang melalui resistor muatan RL akan sia-sia. Oleh karena itu:

VCE ≈ VCC tegangan suplai

Kalau jumlah nominal IB kecil, IC akan sama dengan hFE Idan tegangan yang melalui RL, akan menjadi:

VR = ICRL
dan VCE = VCC – ICRL

Naiknya Iakan menyebabkan IC naik terus hingga mencapai titik ICRL ≈ VCC, yaitu ketika IC tidak dapat naik lagi, meski Itetap naik.

Pada titik ini transistor dikatakan mendapat aliran secara keras, sampai ke dasaratau sarat, dan tegangan VCE disebut VCE sarat tegangan output yang sarat. Biasanya tegangan ini sebesar 0,2 Volt untuk transistor silicon serta dapat sekecil beberapa puluh milivolt, tetapi tidak lebih dari 0,3 Volt.

Gambar 3 Transistor sebagai saklar

Contoh: Diketahui sebuah transistor mengatur beban 0,5A dengan suplai d.c. 12V

1. Ketika transistor itu OFF (mati) :

Anggaplah IC = 1µA yaitu hanya sebesar arus kebocoran.

VCE ≈ VCC = 12V.

Oleh karena itu, pemakaian daya oleh transistor,

P = VCE x IC

= 12 x 1
= 12µW.

2. Ketika transistor itu ON (hidup) :

IC = 0,5 A.

VCE = VCC sarat

≈ 0,2 V.

Oleh karena itu, pemakaian daya oleh transistor,

P = VCE x IC

= 0,2  x 0,5
= 0,1W

3. Ketika transistor itu baru bekerja setengah jalan:

IC = 0,25 A.

VCE = 6 V.

Oleh karena itu, pemakaian daya oleh transistor,

P = VCE x IC

= 6 x 0,25
= 1,5 W.

Kalau daerah pemakian daya ditengah dapat dilalui dalam waktu singkat, transistor itu akan bekerja baik dengan daya ON dan OFF. ekstrem yang rendah, dan segalanya akan berjalan lancar. Akan tetapi arus beban tidak boleh melebihi IC(max).

Menurut Owen Bishop (2004: 72) mengatakan bahwa rangkaian saklar transistor memanfaatkan fitur terpenting dari sebuah transistor BJT-gain. Terdapat lebih dari satu definisi untuk gain yang akan merujuk untuk gain arus sinyak kecil (Small Signal Current Gain). Gain tidak memiliki satuan. Gain hanyalah sebuah bilangan, karena besaran ini merupakan hasil dari pembagian arus dengan arus. Gain sebuah transistor BJT

yang tipikal adalah 100. Rangkaian dibawah ini digunakan untuk memperlihatkan dan menjelaskan secara sederhana konsep gain transistor.

Gambar 4 Rangkaian transistor sebagai saklar

dimana : IC = arus kolektor

IB = arus basis

RB = hambatan basis

RC = hambatan kolektor

VCC = tegangan input

Denyut sulut (Tringger Pulse) perlu setinggi :

VB = IB R+ 0,6 V

Selama ada denyut masukan, pada dioda B-E terukur ada tegangan terbalik

Transistor tipe JFET

Arif Budiman (1992;152) mengatakan bahwa MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Medan Transistor) adalah suatu jenis transistor efek medan / Field Effect Transistor  (FET) yang merupakan semikonduktor yang mempunyai campuran oksidasi metal. Teknologi MOS (Metal Oxide Semiconductor) digunakan juga untuk membuat sirkuit terpadu yang mempunyai indentitas yang tinggi. Metal Oxide Semiconductor sering juga disebut insulated gate FET (IGFET). Hal ini disebabkan karena gate pada MOSFET tidak langsung berhubungan dengan saluran, tetapi diisolasi oleh suatu lapisan oksigen logam yang tipis (biasanya silikon oksida).

Secara umum ada dua macam MOSFET, yaitu :

  • Depletion Enchancement MOSFET (DE MOSFET)
  • Enhancement MOSFET (E MOSFET)
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.